Sajak-Sajak Juan Kromen

IBU DAN DOA

petang merembang, lilin-lilin sunyi bernazar.
kembang-kembang kamboja tak lagi hirau pada musim.
ia semerbak lestari, menguar wangi mistis, seperti harap yang tak pernah pupus.
relikui-relikui dingin jadi latar.
pendar lilin berpagutan, hangatkan malam yang mulai gigil.
namamu tergurat bisu.
terang rebah di ranjang abadimu.

ibu di samping pembaringanmu.
tenang menatap namamu seperti mata yang berbinar.
aku pernah mendengar orang berkata:
“nestapa paling perih adalah nestapa ibu yang kehilangan separuh dirinya.”
seperti maria di jalanan yerusalem menuju puncak kalvari.
ia tahu sedari awal, waktu di kenisah — ketika simeon berkata:
“sebilah pedang akan menembusi jantung-mu.”
namun ibu terlampau agung untuk dipahami oleh latah nalar dan rasa.
hatinya bak rumah yang tak pernah mampu kau masuki, meski telah singgah di serambinya.
ibu menyimpan semua perkara di dalam hati.

angin malam syahdu.
menderu di antara ranting-ranting kamboja yang mulai ranggas daunnya.
laut di belakang pembaringanmu kian renta.
doa telah membubung, layaknya wangi kamboja.
hati kita masih bertaut seperti sulur tetumbuhan liar yang meliliti batang-batang kamboja.
manik-manik rosario masih di genggaman, hangat di antara jemari.
damai bagimu di pembaringan abadi, damai di hati kami.
denyut nadi kami adalah darah yang tertinggal di bumi.
denyut hati kami adalah doa yang tak pernah mati – yang bakal mempertemukan kita;
lagi.
damai di keabadian.

2 November 2018

WAKTU DAN PEREMPUAN
(Untuk Ibu)

adalah waktu, serupa lorong tak berujung, sedari purba. renta — ringkih? sungguh pun ‘ya’, ia seolah-olah baru terlahir kemarin, dari rahim teka-teki. di mezbah agung bernama pengetahuan, ia duduk manis, menerka-nerka isi kepala para cerdik-pandai yang menatapnya takzim dengan jidat berkerut: mencari jawab muasal segala ada. mungkinkah? entahlah. tapi hidup mengajarkan, ia adalah setumpuk pertanyaan yang tak bakal selesai.

adalah waktu, berjalan ajek sedang kita tertatih-tatih, menggulatinya. jejak-jejak terhampar lalu pudar. dari daging jadi tulang-belulang — hingga debu-tanah. nisan-nisan bisu, kubur-kubur sunyi, daun-daun ranggas, aroma kamboja tak kenal musim. apakah waktu merenggut semuanya, tanpa sisa? tidak. tak satu pun yang direnggut dari kehidupan. kita punya ahli waris kehidupan.

adalah perempuan, serupa sang ada. rahimnya, rumah suci kehidupan. doa-doa luruh dari sekujur tubuhnya yang bersimbah harap. dan semesta memberi restu dengan aminnya yang ajaib. pada tungku-tungku adab yang mengepul-membara, tangannya mengayun kipas beranyam cinta. lalu kehidupan ditanak. dunia dibangun di atas pundaknya yang perkasa. sekali meronta, kehidupan adalah puing-puing tanpa makna: kelam seperti malam paling terkutuk.

adalah perempuan, penakluk waktu. di hadapannya waktu ciut. kehidupan ia dekap erat-erat di hangat dada. setetes susu adalah berlaksa-laksa cinta. jika cinta padam, masih berartikah waktu? jika kehidupan usai, masih adakah yang me-waktu?
adalah perempuan, serupa sang ada.

pm, 06/08/2020

DOA BURUNG WALET

pada rembang petang, bocah-bocah telanjang dengan aroma garam menguar dari tubuh ramping berbalur pasir — pulang. burung-burung walet yang lalu-lalang di atas kepala, seperti kawan sepermainan yang setia, berkata,
“cukup untuk hari ini, kawan. esok, kembalilah. kami menanti kalian bercengkerama lagi bersama laut. akrabilah ombak sedari kaki-kaki kalian mudah goyah. kehidupan sewaktu-waktu akan seperti badai. kelak, ketika saat itu tiba, kaki-kaki kalian telah kokoh laiknya karang.”

langit lembayung, dentang lonceng tua gereja di ketinggian memanggil-manggil malaikat. salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata, “bapak saya bilang, ‘kita punya malaikat penjaga tak kasat mata di sisi.'” seorang yang lain menyambung, “ibu saya malah bilang, ‘kitalah malaikat-malaikat itu.'” lalu hening. angin bertiup sepoi dari arah laut.

seorang yang paling kecil dari antara mereka celingak- celinguk, ragu-ragu menatap muka rombongannya, lalu berkata, “malaikat kan tempatnya di surga. tapi tuhan juga bilang, ‘kitalah empunya surga.'” semua tatapan lalu beralih ke sang empunya suara. mereka mengangguk-angguk, setuju — lantas melompat-lompat girang.

mereka lalu menengadah, menunjuk- unjuk langit dengan riang. seekor walet, yang terbang rendah di atas mereka melihat itu dan tersenyum. sang walet tahu, malaikat sedang melukis surga di kanvas langit untuk mereka. ia hanya berharap, kelak langit yang sama akan tetap seindah itu, dengan lukisan yang sama –untuk anak-anaknya di sarang, dan tentu saja, untuk anak para bocah telanjang yang sedang riang itu. surga yang sama bagi semesta.

pm, 29/07/2020


*) Juan Kromen, lahir di Waibalun, Flores Timur, NTT. Penikmat sastra dan kopi hitam tanpa gula. Keterangan foto, dari nttprogresif.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *