Spritualitas Sastra; Mencegah Dekadensi Moral

Munawar A. Djalil *
aceh.tribunnews.com, 4 Maret 2020

Salah satu akibat terbesar dalam kehidupan manusia terutama bagi yang tidak peduli pada spritualitas agama adalah adanya satu kondisi yang oleh pakar pendidikan, sosiolog dan kaum agamawan menyebutnya sebagai dekadensi moral. Dekadensi berasal dari kata “dekaden” yaitu keadaan yang merosot dan mundur, dengan demikian dekadensi moral merupakan keadaan moral yang merosot dan mengalami kemunduran.

Indikasi kemorosotan moral tercermin, ketika seseorang atau kelompok masyarakat termasuk pemerintah cenderung melakukan pelanggaran aturan agama dan hukum. Sebut saja seperti perilaku korupsi yang sudah menjadi masalah laten dan secara sistematik dilakukan di Indonesia. Ironi memang, belum lagi selesai kasus-kasus korupsi terdahulu seperti Bank Century (Rp. 7 triliun), Pelindo II (Rp. 6 triliun), E-KTP (Rp. 2,3 triliun) malah ada yang “dipetieskan” muncul pula kasus baru seperti Jiwasraya (Rp. 13 triliun), Asabri (10. triliun) dan lain-lain.

Ketika kasus terakhir ini terekpose, berbagai stigma buruk pun bermunculan betapa Indonesia ini telah menjadi negara “mafioso” dan mengalami keadaan dekadensi karena seakan agama dan hukum tidak lagi menjadi sandaran hingga kemudian perusahaan BUMN “notebene” milik negara pun mudah menggerogoti uang rakyat. Di samping itu kasus pembakaran hutan, tawuran, aksi kekerasan di kalangan pelajar melengkapi sebagian kecil dari kondisi dekadensi moral yang semakin parah di negeri ini.

Penulis sempat punya pikiran sederhana (untuk tidak disebut remeh) kalau memang selama ini agama dan hukum tidak bisa lagi menjadi solusi dalam mencegah dekadensi moral, mungkin ini akan menjadi pendekatan baru yaitu menemukan hubungan spritualitas sastra dengan dekadensi moral.

Kalau kita mau mendalami karya sastra dalam berbagai jenisnya seperti novel, puisi, dan lain-lain, akan ditemukan bahwa sastra sebagaimana agama juga memiliki nilai-nilai spritualitas yang dapat mempengaruhi perilaku kehidupan bangsa. Karena para sastrawan dalam setiap karyanya menuangkan gagasan yang bersifat spiritual, misalnya terkait membina hubungan dengan Allah sang pencipta, membangun kehidupan yang baik, membentuk manusia berkarakter, membina hubungan antarmanusia, lingkungan dan lain-lain.

Karenanya, akan sulit mengharapkan anak-anak kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia yang memiliki kekayaan spiritualitas yang dapat membuatnya hidup terhormat jika sejak kecil mereka kurang mendapatkan pendidikan sastra.

Kemerosotan moral agaknya bisa dikaitkan dengan rendahnya perhatian kita terhadap sastra. Jika benar ada hubungan antara sastra dengan kondisi dekaden tersebut, maka pendidikan sastralah yang layak dianggap sebagai jembatannya, sehingga kita harus berani mengucapkan dengan tegas bahwa kurikulum pendidikan yang menjadi biang utama.

Sebab, semua generasi bangsa dipastikan tidak akan memiliki perhatian yang serius terhadap sastra jika sejak kecil tidak memperoleh pendidikan yang baik. Dalam hal ini, guru-guru sebagai pendidik di sekolah tidak bisa sepenuhnya dijadikan kambing hitam, karena faktanya, kurikulum pendidikan yang menjadi pedoman mengajar anak didik sangat kurang memberi peluang untuk menyemai apresiasi sastra anak.

Maka tidak salah kalau banyak orang bersumsi bahwa bangsa kita benar-benar menjadi bangsa yang miskin spiritualitas sehingga begitu mudah melakukan hal-hal nista tanpa rasa bersalah atau malu. Anggapan tersebut tentu sangat beralasan karena selama ini kita berada dalam jeratan kurikulum pendidikan yang sangat sedikit berkaitan dengan sastra.
***

Oleh karenanya, pendidikan sastra di sekolah-sekolah kita harus ditingkatkan dan difokuskan ke arah upaya meningkatkan apresiasi sastra, sehingga anak-anak sejak kecil terdorong untuk bersemangat mengenal karya-karya sastra dengan serius. Terlalu naif, jika kurikulum pendidikan dibiarkan cenderung meremehkan upaya meningkatkan apresiasi sastra dengan terus menerus meminimalkan pengajaran sastra di sekolah-sekolah kita, hanya karena menganggap sastra tidak penting bagi pembangunan bangsa. Yang perlu diketahui bahwa sastra juga banyak memberikan informasi tentang masa lalu yang berkaitan dengan sejarah suatu bangsa yang bisa menjadi spirit hidup dan yang bisa dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Secara jujur dapat dikatakan, misalnya bangsa-bangsa di dunia yang kini telah maju, ternyata memiliki kurikulum pendidikan yang cenderung berupaya meningkatkan apresiasi sastra sebagai primadona di sekolah-sekolah. Sehingga tidak mengherankan, jika di negara-negara tersebut sangat sedikit siswa yang berperilaku tidak terpuji seperti mencorat-coret baju seragamnya setelah dinyatakan lulus atau tidak ada kasus tawuran, kekerasan antarsiswa, karena hampir dapat dipastikan semua siswa sekolah di negara itu telah menyerap nilai spritualitas dari karya-karya sastra yang dibacanya seperti budi pekerti dan etika.

Ironi memang, jika dibandingkan negara kita. Ketika memperhatikan soal-soal ujian di sekolah menengah yang berkaitan dengan sastra, justru masalah-masalah remeh yang selalu dijadikan soal ujian seperti misalnya di mana penyair Chairil Anwar dilahirkan, dan apa salah satu judul novel karya Marah Rusli. Belum pernah kita menemukan bahan ujian yang mengharuskan murid di sekolah-sekolah mendeskripsikan satu bait puisi karya Chairil Anwar atau kalau di Aceh tidak pernah kita mendapatkan dimana murid diharuskan membuat komentar pendek tentang puisi karya Prof Ali Hasymi.

Padahal, kalau anak-anak kita mau membaca karya sastra Ali Hasymi seperti puisi “Menyesal”, anak-anak kita akan termotivasi bahwa usia muda adalah masa untuk belajar dan menuntut ilmu. Begitu juga dengan novel petualangan A. Fuadi “Ranah Tiga Warna”, sebuah karya yang sempat best seller, betapa di dalamnya terkandung muatan spritualitas, “siapa yang bersungguh-sungguh pasti dia akan mendapat”.

Karenanya penulis mendorong jika memang ada niat baik untuk meningkatkan apresiasi sastra di sekolah-sekolah, pihak otoritas sekolah dapat memilih karya-karya sastra yang banyak memuat nilai-nilai tentang ajaran moral dan spiritualitas hidup untuk menjadi kajian siswa-siswanya. Yang perlu diingat bahwa karya sastra seburuk apa pun bisa “mendidik” pembacanya untuk bersikap kritis dalam memilih dan memilah nilai-nilai spiritual yang ditawarkannya. Nah, ketika agama dan berbagai perangkat hukum belum cukup memadai mengatur kehidupan bangsa, nampaknya nilai spritualitas sastra dalam kurikulum pendidikan sudah selayaknya ditingkatkan. Karena setiap karya sastra dipastikan mengandung nilai-nlai spiritualitas tentang kehidupan yang bisa dijadikan modal dasar membangun karakter bangsa.

Tanpa bermaksud meremehkan agama dan perangkat hukum, kenyataannya berbagai kasus buruk yang berkaitan dengan ambruknya moral dilakukan oleh nsemua orang yang mengaku beragama dan bahkan tampak rajin beribadah. Pada titik ini, maka sastra sebagai produk peradaban dan kebudayaan sejatinya menjadi sebuah pendekatan baru (the new approach). Allahu `Alam.
***

*) Dr. Munawar A. Djalil. MA, Peminat Sastra dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Blang Beringin, Cot Masjid, Banda Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *