Sajak-Sajak Taufiq Wr. Hidayat

PERUT PUISI
—sebuah puisi.

Di kedalaman matamu, tatapan kerbau yang teduh. Diam saja. Mengibaskan ekornya. Seperti tahu, bahwa ia harus pulang sebentar petang. Sedang para penyair, masih sibuk mencari dirinya sendiri yang ketelingsut di antara laci dan almari. Orang-orang bersorak. Melihat seorang manusia. Dan seorang bahasa yang kelaparan.

Di dalam perutnya, sungai-sungai mungil, jembatan-jembatan bambu, dan lengkung padi sampai ke relung sukmamu. Seperti nyanyian. Di sana, para penari telah pulang. Para pelawak telah turun dari panggung, di antara penonton yang lelah dan tak lagi punya tawa. Perjalanan rindu, jurang nasib, dan kaki bangunan raksasa menginjak sampai punggungnya. Belantara kata-kata, belantara besi dan cor-coran. Mimpi semen dan alat-alat berat. Malam tak lagi menyediakan persembunyian. Para penyair, sibuk menata rambut. Menciptakan surga dari kata-kata yang sesungguhnya tak pernah ia pahami sendiri. Lambungnya perih. Menemukan sangsi di dalam perut puisi.

Di dalam ingatannya. Lokomotif tua. Desa-desa ditinggalkan berlalu. Seperti kenangan. Dan sepi patah hati. Dari bulankah, tuan? Tanya lagu lama. Sedang kereta terus ke sana. Ke tempat-tempat asing yang tak dipahami. Para penyair meneriakkan bahasa yang tak berbusana, sambil mencari dirinya yang terpendam di antara tumpukan kekaguman, memuji senjahari sambil mengenakan masker dan mengutuk pandemi. Seperti kepalsuan. Memungut kata-kata di antara pertanyaan dunia yang tak pernah terjawab, tak menyisakan harap, dan kehilangan, mencari dirinya sendiri. Selalu tak dimengerti; buat apa semua ini?

Tapi di manakah penyair bermata kerbau, yang memandang langit senjakala tanpa kata-kata? Matanya yang dalam. Yang merindukan gelap malam di penjelang petang yang lebam. Yang mengenali dirinya sendiri di dalam sunyi, sebelum segalanya menjadi bunyi. Kemudian membajak sawah ketika pagi membawakan padanya matahari. Mengunyah waktu dan sangsi ke dalam perut sebuah puisi.

Gumuk Angin, Tembokrejo, 2020

MATA PUISI
—seperti puisi.

Kalau saja ia tak mengibaskan rambutnya ketika senja, di sebuah jalan gerimis entah di mana. Maka sesungguhnya benarlah ramalan ahli nujum itu, bahwa kematian seorang penyair telah sampai kepadanya melalui kabar burung yang datang saat petang. Tetapi siapakah perempuan berkaki kijang yang telah melintas di antara pohon-pohon pinus itu? Bukankah tatapan penyair tak sempat mencatatnya ke dalam aroma kata dari daun-daun yang tersiram hujan pertama?

Seandainya yang datang ketika petang bukan seorang penumpang penjual bunga, jangan-jangan memang benar, bahwa kedua mata penjaga lokomotif itu telah dimasuki peristiwa-peristiwa ganjil yang tak dimengerti. Dan berita kehilangan telah menyebar ke seluruh negeri, perihal seorang gadis manis yang membawa gerimis.

Mata puisi.
Seperti sangsi.

Dan jika orang-orang tak mengusir penyair sial yang memasuki kota dengan baju basah itu, kegaduhan mungkin saja dapat dihentikan. Sehingga orang-orang pun sadar, bahwa selama ini mereka telah menyembah berhala keturunan, kekaguman, dan rasul-rasul palsu yang meneriakkan kata-kata kotor ke udara, ke dalam jaringan-jaringan, dan layar sentuh yang ngilu. Tetapi lihatlah, perempuan nyaris telanjang dengan tato warna-warni pada beberapa bagian tubuhnya itu, mengusir gerah bersama gairah. Langit kelam. Cuma pertentangan tanpa harapan. Bahwa segala kemungkinan telah lebam. Orang meraba-raba kebenaran, seperti mata-mata negara.

Jalan ke kotamu dipenuhi antrean orang, begitu panjang, begitu garang, begitu berang. Tapi seekor merpati di puncak gedung tinggi itu, menatap sepi. Orang-orang sekarat di tengah panas. Dicekik kecemasan. Buruh dan debu. Pengais hidup dan sampah. Jangan-jangan benar ramalan si ahli nujum ketika bulan purnama tahun lalu, bahwa seorang pengkhianat telah menyusup di balik gelap, kemudian tiba di atas panggung dengan baju suci serba putih, menawarkan jalan keluar, dan surga janji-janji. Kegaduhan dan rasa tidak aman, menjadi pandemi.

Gemung Angin, Tembokrejo, 2020

BIBIR PUISI
—risau sepi.

Seperti malam, ia memeluk hujan. Kegelapan yang digoda lampu-lampu. Tapi sebelum perempatan, dibersihkannya bekas pergulatan yang tak pernah usai. Tentang kebun jeruk, halaman belakang, dan sumur tua di pedalaman kenangan. Kaki-kakinya yang indah, melewati jalanan kota. Orang-orang bercanda cabul. Dan pada bibirnya, hujan membasah. Hendak mengisahkan kesepian panjang sepanjang bahasa. Mendesahkan bau keringat orang asing yang meniduri malam-malamnya yang selalu gulita. Dikeroyok tanda tanya. Didekap kecemasan yang bernafsu, lalu menusuknya dari arah belakang.

Bibir puisi.
Seperti rasa perih.
Di risau sepi.

Di punggung malam, ia selalu ingin terbenam, hilang, dan dilupakan. Dan tak lagi ingin ditemukan. Tapi harum parfum, alkohol, asap tembakau, dan cita-cita. Sesal tak pula diselesaikan. Jarak yang selalu terlambat, seperti negara seperti agama yang seakan-akan tak pernah ada.

Seperti malam, ia memeluk hujan. Kenangan. Dan cinta sebuntal mentega. Yang menagih pedih ke lubuk janji. Mendesahkan tiap perjumpaan pada rerimbunan hujan di serumpun diam, di sebuah jalan kecil yang bersih. Menangisi segala perpisahan, mengenangkan segenap kehilangan. Pintu-pintu resah menanam bunga, dan pohon-pohon Cemara.
Demam.
Ke jauh gelisah tanya.
Rindu.
Di palung resah rahasia.
Rahasia.
Manusia.

Dan seperti malam.
Ia selalu memeluk hujan.
Ingin hilang. Dilupakan.
Tak ingin lagi ditemukan.
Tak ingin lagi dikenangkan.

Gumuk Angin, Tembokrejo, 2020

MULUT PUISI
—seperti janji.

Membaca sajak ini, bersama sebilah pisau dapur, dan pikiran-pikiran yang kabur. Orang-orang dikepung tanda tanya. Dunia menjadi panik dan mekanik. Agama dan negara seakan-akan tak pernah ada, selalu terlambat pada yang sekarat. Mengutuk kegelapan dari dalam kegelapan.

Salak anjing malam menabrak jendela, mengitari kota, dan kepedihan yang disimpan dalam pendingin ruangan. Seperti kekasih hati yang menghilang di ujung jalan berhujan. Tanpa pesan, tanpa kesan, tanpa kesedihan.

Dunia dibangun di atas bau mesin yang menyengat panas dan memualkan. Bau karet yang terbakar dibawa angin ke selatan. Segala ratap dan pertentangan, tanpa harapan tanpa kenangan. Orang-orang menikam udara, mengutuk waktu dengan layar sentuh. Cintamu, kekasihku. Terbentur gir dan cor-coran. Membasi dalam lonjoran-lonjoran besi. Daging-daging bimbang, meleleh dalam gamang yang diantarkan gelombang cemas di tengah antrean panjang penerima bantuan langsung tunai. Jalan pintas dan putus asa menjadi pandemi. Hujan berkejaran di atap-atap bulan, bersama kisah pilu seorang penyair yang terkapar di ranjang kembang jalanan. Ia ingin mengenangkan kesadaran yang tak pernah sengaja padam dalam suara-suara datar, yang memfosil pada hati yang tersesat di belantara audio-visual. Atau terjerat ayat-ayat suci yang dikhotbahkan para bajingan yang menyebut diri nabi. Balok-balok berserak gemuruh ramai yang membongkah tanpa tegur sapa. Manusia beriman pada ketakutan dan kebimbangan. Memuja kuasa, sampai punah.

Gumuk Angin, Tembokrejo, 2020


Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *