CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (2)

Djoko Saryono

Sastra Indonesia khususnya novel Indonesia modern juga telah dan tetap menjadi teks wacana yang difungsikan sebagai wahana dan wujud ekspresi, eksternalisasi, dan integrasi hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan tentang perempuan Indonesia. Sitti Nurbaya dalam novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, Maria dan Tuti dalam novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Sukartini dan Rochayah dalam novel Belenggu karya Armijn Pane, Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Pariyem dalam novel (prosa liris) Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag, Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya Pramoedya dan Larasati (Atik) dalam novel Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, misalnya, merupakan contoh citra perempuan Indonesia di dalam novel-novel Indonesia.

Citra tentang Sitti Nurbaya, Maria, Tuti, Sukartini, Rochayah, Nyai Ontosoroh, Pariyem, dan Larasati tersebut merupakan pencanggihan hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan para novelis Indonesia antara lain tentang keberadaan, kedudukan, kehidupan, kepribadian, dan keadaan perempuan-perempuan Indonesia. Ini mengimplikasikan, teks-teks wacana sastra Indonesia menjadi representasi konstruksi citra perempuan Indonesia yang dihayati, direnungi, diingat, dipikirkan, digagas, dan dipandang oleh sastrawan Indonesia baik laki-laki maupun perempuan.

Selanjutnya, hal itu menandakan bahwa sastra Indonesia diyakini sebagai teks – sebagaimana teks-teks lain – yang secara efektif bisa dipakai untuk membangun atau membentuk sosok perempuan Indonesia. Oleh karena itu, teks-teks sastra Indonesia dapat dijadikan salah satu objek atau sasaran studi perempuan, humaniora, dan ilmu-ilmu sosial di samping dijadikan salah satu objek pengkajian sastra dan filsafat.

Dapat dikatakan bahwa para novelis Indonesia – baik laki-laki maupun perempuan banyak sekali menampilkan atau mengemukakan hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan mereka tentang citra perempuan Indonesia di dalam novel-novel yang mereka tulis [hasilkan]. Di dalam sepanjang sejarah novel Indonesia – semenjak awal Abad XX sampai dengan akhir Abad XX sekarang – isi novel-novel Indonesia banyak sekali memancarkan dan menampilkan citra perempuan Indonesia dengan penuh keanekaragaman panorama.

Sebagian besar isi novel yang ditulis baik oleh novelis laki-laki maupun novelis perempuan – semenjak Azab dan Sengsara (Merari Siregar) dan Layar Terkembang (St. Takdir Alisjahbana) pada tahun 1920-an sampai dengan Bekisar Merah (Ahmad Tohari) dan Tirai Menurun (N.H. Dini) serta Saman (Ayu Utami) pada tahun 1990-an – mencitrakan perempuan Indonesia. Sosok perempuan di dalam kehidupan keluarga dan sosial, kedudukan perempuan di dalam kehidupan keluarga dan sosial, posisi perempuan di hadapan laki-laki, ruang domestik dan publik bagi perempuan, dan lain-lain banyak dicitrakan oleh novel-novel Indonesia.

Tidak herankan, citra perempuan Indonesia menjadi bagian sangat penting dan menonjol (signifikan dan dominan) dari sejarah perkembangan novel-novel Indonesia. Oleh karena itu, ihwal citra perempuan Indonesia di dalam novel-novel Indonesia menjadi salah satu hal penting dan menarik di dalam sastra Indonesia. Seperti apakah citranya?

Bersambung…

2 Replies to “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *