CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)

: Peran Gender, Ruang Domestik, dan Ruang Publik

Djoko Saryono

Salah satu konsekuensi logis yang penting dari integrasi kultural terhadap tradisi adalah penerimaan peran-peran gender perempuan yang sudah ditentukan secara turun-temurun oleh tradisi, sedangkan salah satu konsekuensi logis yang pen­ting dari resistensi kultural terhadap tradisi adalah penolakan peran-peran gender perempuan yang sudah ditetapkan oleh tradisi. Sebagaimana sudah diketahui, peran-peran gender tradisional sangat berorientasi pada fungsi biologis perempuan yang berpusat di ruang domestik yang tidak jarang diasosia­sikan nonproduktif – tanpa harus berarti tidak ada ruang publik bagi peran gender tradisional. Dalam pada itu, peran-peran gender modern lebih ber­orientasi pada fungsi sosial perempuan yang berfokus di ruang publik yang tidak jarang diasosiasikan produktif – tanpa harus berarti meninggalkan fungsi biologis perempuan yang berpusat di ruang domestik.

Sebagai perempuan yang memilih integrasi kultural terhadap tradisi, Pariyem, Srintil, Kedasih, dan Sumirat – sebagai contoh – menerima peran gender tradisional yang sudah tersedia bagi mereka. Pada dasarnya, hidup dan kehi­dup­an mereka berpusat di ruang domestik. Bahkan Pariyem sepenuh­nya bergerak di ruang domestik. Dia menjadi babu di rumah Kanjeng Raden Tumenggung Cokrosentono. Dalam pada itu, Srintil, Kedasih, dan Sumirat masih bergerak juga di ruang publik di samping bergerak utama di ruang domestik. Dalam hal ini Srintil menjadi ronggeng, sedang Kedasih dan Sumi­rat menjadi bintang kejora wayang orang di samping menikah, melahirkan, dan mengasuh anak-anak.

Hal tersebut mereka jalani dan laksanakan dengan ikhlas, pasrah, sabar, dan penuh pengorbanan yang sangat mengagumkan. Mereka sama sekali tidak berpandangan atau berpendapat bahwa hal tersebut merupakan belenggu, kukungan, dan batasan. Dalam perspektif kemodernan, mereka sering disebut tidak memiliki kesadaran dan daya hidup kritis dan mandiri sebagaimana sering dilontarkan oleh perempuan-perempuan modern.

Peran gender perempuan yang dijalani dan dilaksanakan oleh perempuan-perempuan seperti Pariyem, Srintil, Kedasih, dan Sumirat tersebutlah yang ditolak oleh perempuan-perempuan modern seperti Sitti Nurbaya, Tuti, Atik, dan Neti. Sebagai perempuan yang lebih memilih resistensi kultural terhadap tradisi, Sitti Nurbaya, Tuti, Tini, Atik, dan Neti – sebagai contoh – menolak peran-peran gender tradisional yang sudah tersedia bagi mereka. Mereka menginginkan peran-peran gender modern yang mereka anggap baik dan membebaskan.

Tidak mengheran­kan, mereka menolak hanya hidup di ruang domestik. Mereka juga menghendaki hidup dan kehidupan di ruang publik. Meskipun belum berhasil bergerak di ruang publik, secara tajam, kritis, bahkan sinis Sitti Nurbaya selalu mengkritik dan melawan peran-peran gender tradisional yang disediakan oleh tradisi baginya. Demikian juga Tini dan Tuti selalu berusaha sekeras-kerasnya bergerak di ruang publik meskipun bisa dikatakan belum berhasil sepenuhnya, bahkan gagal. Peran gender Tini di ruang domestik hancur akibat berkeras menunaikan peran gender di ruang publik. Hubungan dan perkawinan dengan Tono­­ menjadi hancur adalah taruhan Tini ketika berkeras bergerak di ruang publik dan menerima peran gender modern.

Ke­sendirian dan kecaman atau kesinisan masyarakat adalah resiko yang harus diterima oleh Tuti ketika dia menerjunkan diri di dalam kegiatan publik, dalam hal ini kegiatan organisasi perempuan dan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia. Sementara itu, Atik dan Neti merupakan contoh perempuan yang sudah berhasil bergerak di ruang publik dan memerankan peran-peran gender modern. Mereka tidak menghadapi kendala berarti dalam menunaikan peran gender di ruang publik. Atik bisa mencapai gelar doktor dan bekerja di sebuah lembaga pemerintah, sedangkan Atik bisa mencapai gelar sarjana antropologi dan bekerja sebagai sosiawati di perkampungan kumuh.

Berlanjut…

One Reply to “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *