CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)

: Keterpelajaran, Ketradisionalan, dan Kemodernan Perempuan

Djoko Saryono

Keterpelajaran dan keterdidikan perempuan-perempuan golongan menengah dan menengah-atas tersebut membuat mereka tampak memiliki rasionalitas, kesadaran dan daya hidup mandiri, dan sikap kritis terhadap keadaan-kenyataan sekeliling mereka. Dengan modal tersebut, mereka tidak selalu menerima, apalagi mengintegrasikan diri ke dalam keadaan-kenyataan tradisi budaya sekeliling mereka. Mereka tampak mampu dan atau selalu mempertanyakan dan memperhitungkan apakah keadaan-kenyataan tradisi budaya di sekeliling mereka merugikan atau tidak bagi diri mereka. Bahkan mereka juga tidak segan dan rikuh untuk memberontak dan melawan keadaan-kenyataan tradisi budaya di sekeliling mereka yang dirasakan merugikan diri (kehadiran) mereka.

Begitulah, Sitti Nurbaya, Tuti, Tini, Atik, Neti, dan Nyai Ontosoroh – sebagai contoh – adalah perempuan-perempuan yang mampu mempertanyakan dan memperhitungkan, bahkan memberontak-melawan keadaan-kenyataan tradisi budaya di sekeliling mereka. Sitti Nurbaya dan Tuti, misalnya, dengan kritis dan tidak jarang sinis selalu mempertanyakan dan memperhitungkan “kebu¬sukan” keadaan-kenyataan tradisi budaya Minangkabau yang dirasakan membelenggu mereka dan kaum mereka. Atik dan Neti dengan kritis memberontaki dan melawan keadaan-kenyataan tradisi budaya Jawa mereka. Bahkan Nyai Ontosoroh di dalam Bumi Manusia dengan berani, menjurus ke nekat, memberontak dan melawan sistem kolonial yang dirasakannya sangat tidak adil dan mengebiri hak asasi kaum bumiputra.

Pemertanyaan, perhitungan, pemberontakan, dan perlawanan tersebut didasari oleh seperangkat nilai dan sikap yang berasal dari keterpelajaran dan keterdidikan mereka – para perempuan golongan menengah dan menengah-atas. Berhubung keterpelajaran dan keterdidikan berkonotasi dengan kemodernan yang notabene berasal dari Barat, maka dapat dikatakan di sini bahwa sikap dan tindakan mereka tersebut didasari oleh kemodernan. Hal ini mengimplikasikan bahwa mereka berorientasi pada kemodernan, bukan ketradisionalan. Dengan nilai dan sikap yang dianggap mencerminkan kemodernan, mereka melawan, bahkan menolak ketradisionalan.

Begitulah, Sitti Nurbaya, Tuti, Atik, dan Neti memilih dan menjalani kemodernan pada satu pihak dan pada pihak lain memberontaki dan menolak ketradisionalan sebab kemodernan membebaskan mereka, sedangkan ketradisionalan membelenggu mereka. Dengan meminjam istilah Peusen (1981), dapat dikatakan bahwa para perempuan golongan menengah dan menengah-atas memilih hidup di alam budaya ontologis, dan bahkan fungsional. Jadi, semakin tinggi (tingginya) keterpelajaran dan keterdidikan telah mendorong kaum perempuan golongan menengah dan menengah-atas cenderung ke arah kemodernan. Di sini terlihat bahwa tingginya keterpelajaran dan keterdidikan memiliki kesejajaran dan afinitas dengan kemodernan.

Sebab itu, dapat dikatakan bahwa di dalam teks-teks novel Indonesia terepresentasi dua macam citra perempuan, yaitu citra perempuan tradisional dan citra perempuan modern. Perempuan tradisional secara afirmatif mengintegrasikan diri pada keadaan-kenyataan tradisi budaya yang sudah ada, sedangkan perempuan modern secara kritis, diagnotis, dan dekonstruktif memperhitungkan dan melawan keadaan-kenyataan tradisi budaya yang sudah ada pada satu pihak dan pada pihak lain secara afirmatif mengintegrasikan diri pada tradisi budaya modern yang sedang dibentuk dan dilembagakan.

Pariyem (Pengakuan Pariyem), Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk), Bu Bei (Canting), Kedasih dan Sumirat (Tirai Menurun), dan Maria (Layar Terkembang), misalnya, adalah citra perempuan tradisional yang tampil di dalam teks novel Indonesia. Dalam pada itu, Sitti Nurbaya (Sitti Nurbaya), Tuti (Layar Terkembang), Tini (Belenggu), Larasati (Atik) dan Bu Antana (Burung-burung Manyar), Neti (Burung-burung Rantau), misalnya, adalah citra perempuan modern yang tampil di dalam teks novel Indonesia.

Ketradisionalan perempuan-perempuan tersebut mendorong mereka melakukan integrasi kultural, sedangkan kemodernan perempuan-perempuan tersebut mendorong mereka melakukan resistensi kultural. Hal ini mengimplikasikan bahwa citra perempuan tradisional berkonotasi dengan integrasi kultural terhadap tradisi, sedangkan citra perempuan tradisional berkonotasi dengan resistensi kultural terhadap tradisi.

Berlanjut…

3 Replies to “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *