KELAS MENULIS YANG MENUNTUT TUGAS DAN KISAH DISABILITAS TENTANG ANGKIE YUDISTIA

Membaca Novel ISYARAT: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Tuhan Berikan


Anton Wahyudi *

Namanya Fatma Dwi Rachmawati. Biasa dipanggil Fatma atau Si Wati. Fatma adalah anak kedua yang dilahirkan di Jombang pada tahun 2000. Fatma gemar membaca buku, menikmati segala macam makanan, minuman, dan tentunya… menyayangi. Menyayangi apa saja. Konon, katanya, Fatma mulai senang menulis pada awal 2020 lantaran tuntutan tugas dari dosen kelas menulis. Tuntutan yang lama-kelamaan menjadi hobi walau tak terlalu. Awal selain tertuntut menulis Fatma tak mempunyai keahlian yang khusus, terkecuali membuat seseorang jatuh cinta padanya berkali-kali dan menyanyangi orang yang juga menyanyanginya.


Tahun 2020 ini, tepatnya di semester dua, Fatma lulus matakuliah menulis. Lulus menulis cerita fiksi panjang tentang sosok yang inspiratif. Ia berhasil menulis cerita panjang yang membingkai sosok penyandang disabilitas bernama Angkie Yudistia.

Dalam cerita yang dibukukan menjadi novel biografi ini diceritakan Angkie Yudistia yang kerap disapa Angkie lahir pada tanggal 5 Mei 1987. Angkie memiliki keterbatasan fisik fungsi indra pendengar. Terlahir dari pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman. Sosok penyandang disabilitas tuna rungu yang awalnya terlahir dengan kondisi normal dan tak kurang satu apapun ini bisa membuktikan bahwa kekurangan pada dirinya adalah kelebihannya yang dianggap luar biasa.

Pendengarannya mulai menghilang tatkala ia berusia sepuluh tahun. Diduga hal tersebut terjadi lantaran tak lepas dari kesalahan penggunaan obat-obatan antibiotik pada saat Angkie terserang beberapa penyakit, termasuk Malaria, yang pada akhirnya menyebabkan dirinya terserang demam tinggi. Hingga pada akhirnya ia kehilangan indra pendengarannya untuk selamanya.

Angkie harus menerima kenyataan hidup bahwa ia pun menjadi sosok penderita tuna rungu. Semenjak kejadian yang sangat membuatnya terpukul itu, Angkie merasa tidak percaya diri dan menutup diri untuk beberapa waktu. Namun, atas dukungan yang kuat dari keluarga dan orang-orang terdekatnya, terutama sang ibunda tercinta, secara perlahan ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan membuat kepercayaan dirinya muncul kembali. Tanpa peran orangtuanya, Angkie tidak akan membayangkan jika dirinya masih dalam keterpurukan dan rasa tidak percaya diri.

Sejak menjadi anak berkebutuhan khusus Angkie kecil kerap mendapat perlakuan yang tidak baik dari lingkungan. Ia selalu merasa terpojok serta banyak teman-teman sebayanya yang menjelek-jelekan dirinya. Bahkan, Angkie sudah terbiasa mendengarkan itu semua dalam kehidupan sehari-hari. Puncaknya, kejadian pahit pada saat Angkie duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Angkie sempat minder, merasa dirinya seperti itik buruk rupa yang tidak bisa apa-apa karena melihat teman-temannya sedang asyik berpasangan dan bermain dengan banyak orang selayaknya remaja yang sedang menikmati masa puber.

Hebatnya, hal itu tidak membuat Angkie patah arang. Justru hal tersebut menjadi cambuk semangat untuk terus menggapai cita-citanya. Pada 2008 Angkie yang dibantu dengan alat bantu pendengaran mengikuti ajang Abang None atau Kontes Pencarian Duta Pariwisata DKI Jakarta dan berhasil terpilih sebagai salah satu finalis dari daerah pemilihan Jakarta Barat.

Masih di tahun yang sama, Angkie juga sukses menyabet penghargaan sebagai The Most Fearless Cosmopolitan 2008. Setelah menuntaskan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 2 Bogor Angkie kemudian melanjutkan pendidikannya di London School of Public Relations, menempuh Program Studi Ilmu Komunikasi. Bangku Perguruan Tinggi pun ia tempuh hingga Strata Dua dan lulus pada tahun 2010 dengan Predikat Cumlaude.

Berbekal pendidikan dan skills komunikasi yang dimiliki Angkie pada akhirnya memutuskan ia untuk mendirikan Thisable Enterprise pada tahun 2011. Sebuah program pengembangan skills untuk para penyandang disabilitas. Sebelumnya Angkie pernah bekerja di perusahaan besar seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara.

Angkie mendirikan lembaga tersebut dengan tujuan untuk memberdayakan kelompok disabilitas Indonesia agar memiliki kemampuan, keterampilan, dan menyalurkannya ke dunia kerja. Terutama dunia kerja pada industri ekonomi kreatif. Menurut Angkie, saat ini kelompok disabilitas masih sangat kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Angkie juga berharap lewat Thisable Enterprise kalangan disabilitas mampu bersaing dalam dunia kerja sehingga perekonomian mereka dapat terangkat dengan baik.

Pada 2017, perusahaannya menggandeng Go-Jek sebagai mitra bisnis, di mana para penyandang disabilitas yang berada di bawah naungan Thisable Enterprise disalurkan untuk menjadi tenaga kerja pada sejumlah layanan Go-Jek. Seperti Go-Massage, Go-Clean, Go-Auto, maupun Go-Glam, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing disabilitas. Thisable Enterprise juga diketahui mengeluarkan sejumlah produk retail. Khususnya di bidang perawatan tubuh, seperti sabun dan kosmetik kecantikan.

Angkie juga berhasil menerbitkan tiga buku karanganya yang berjudul “Menembus Batas”, “Setinggi Langit’’, dan “Become Rich as Sociopreneur”, hingga pada akhirnya pada tahun 2019 ia berhasil memperoleh Penghargaan Asia’s Top Outstanding Women Marketeer of The Year dari Asia Marketing Federation.

Angkie merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan Presiden Jokowi terhadap dirinya yang diangkat menjadi salah satu anggota Staff Khusus Presiden sebagai Juru Bicara di bidang sosial. Angkie bertekat dengan sepenuh hati membantu presiden mewujudkan misi menuju Indonesia yang lebih ramah terhadap disabilitas.

Penasaran dengan lanjutan isi novelnya, baca “ISYARAT: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Tuhan Berikan”!

5 Des 2020

*) Anton Wahyudi, bermukim di Dusun Jambu RT/RW: 2/2, Desa Jabon, Jombang. Mengelola Jombang Institute, sebuah Lembaga Riset Sejarah, Sosial, dan Kebudayaan di Jombang, Jawa Timur. Di samping aktif dalam kegiatan menulis, dan sebagai editor lepas, menjadi Dosen Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI, Jombang. Buku terbarunya “Guruku, Ayahku, Kakakku Kwat Prayitno” (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *