TRIBUT PENDEK UNTUK PARA PENERJEMAH YANG TERHORMAT

Erwin Setia *

Ketimbang untuk para anggota DPR, label ‘yang terhormat’ dan ‘yang mulia’ lebih pantas disematkan untuk para penerjemah. Mereka adalah entitas yang tak doyan mempertontonkan diri ke khalayak sebagaimana para anggota DPR kerap menunjukkan giginya yang paling rompal ke hadapan kamera wartawan. Agaknya tak berlebihan menyebut penerjemah sebagai orang paling ikhlas di alam raya kesenian. Mereka bekerja dalam kesunyian, cenderung dianggap tidak ada, padahal bisa apa kita tanpa penerjemah? Bayangkan betapa remuknya kesusastraan dan peradaban keilmuan secara umum di negeri ini (juga di Baghdad, Washington, London, Roma—singkatnya di manapun) tanpa kehadiran penerjemah. Itulah di antara bukti bahwa para penerjemah layak dihormati dan dimuliakan.

Sebagai apresiasi kecil-kecilan, saya ingin menyebut sekaligus mengulas secara singkat beberapa penerjemah yang karyanya saya baca tahun ini. Apa yang saya lakukan ini memang tak setimpal dengan kerja keras para penerjemah, sama sekali tidak berdampak nyata untuk mereka. Namun inilah langkah kecil yang saya lakukan. Ya, mungkin suatu saat nanti kalau memiliki kelimpahan rezeki saya akan mengadakan penghargaan khusus tahunan untuk penerjemah berhadiah 100 juta. Aminkan saja.

Saya menyusun nama-nama penerjemah berikut ini secara alfabetik dan akan membicarakan soal mereka sepintas saja. Tidak seperti mulut para kekasih dan politisi, para penerjemah berikut tidak akan pernah mengecewakan kita. Percayalah.

D – DJOKOLELONO
Sekitar empat tahun silam saya membaca Dataran Tortilla karya John Steinbeck yang diterjemahkan oleh Djokolelono. Saya membaca novel itu karena banyak orang yang menyebutnya sebagai buku yang bagus. Tapi jujur saja, saat membaca novel tersebut waktu itu saya tak merasa cukup terkesan. Saya merasa cerita tersebut kering dan datar. Perasaan ini pernah menjalari saya sewaktu membaca Lapar karya Knut Hamsun yang diterjemahkan oleh Marianne Katoppo. Saya merasa dua novel tersebut seharusnya bisa lebih baik daripada yang saya baca. Lantas, saya berpikir, apa yang salah? Saya mulai melemparkan kesalahan kepada penerjemah. Saya menganggap terjemahan mereka kurang bagus sehingga cerita yang diterjemahkan menjadi tak sebaik yang seharusnya.

Anggapan seperti itu mencengkam saya selama beberapa waktu sampai saya insaf bahwa barangkali bukan penerjemahnya yang keliru, tapi sayalah—saya kurang banyak baca, kurang ilmu, dan otomatis kurang bisa memahami apa yang saya baca pada waktu itu. Semasa SMP guru Bahasa Indonesia pernah menyuruh saya membaca puisi-puisi Amir Hamzah. Saat itu kepala saya seperti dimasuki serangga-serangga jahat yang membuat kepala saya pening dan akhirnya saya membatin, “Puisi macam apa sih ini? Kok bahasanya bikin mumet.” Seperti itulah sensasi kebodohan.

Juli lalu, berkat kebaikan seorang teman, saya memperoleh novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez yang dialihbahasakan oleh Djokolelono. Nama Djokolelono membuat saya teringat pada momen tatkala saya menekuri Dataran Tortilla. Mudah-mudahan terjemahannya kali ini tidak sedatar dulu, harap saya.

Harapan saya terkabul. Novel Seratus Tahun Kesunyian diterjemahkan begitu apik oleh Djokolelono. Ini membuat saya bertanya-tanya apakah Djokolelono yang menerjemahkan Seratus Tahun Kesunyian adalah Djokolelono yang sama dengan yang menerjemahkan Dataran Tortilla. Namun saya sadar, yang berbeda bukanlah Djokolelono, tapi saya. Pada saat membaca Seratus Tahun Kesunyian, meski masih goblok, setidaknya saya tidak segoblok dulu.

Seratus Tahun Kesunyian adalah karya (terjemahan) Djokolelono yang patut dirayakan. Seorang teman bilang bahwa terjemahan Max Arifin atas One Hundred Years of Solitude (yang diterbitkan oleh Bentang Budaya) lebih asyik ketimbang terjemahan Djokolelono. Saya tidak tahu apakah pendapat teman saya itu tepat atau tidak. Yang jelas saya puas terhadap terjemahan Djokolelono dan itu sudah lebih dari cukup. Ada satu lagi versi terjemahan atas novel Gabo tersebut, yaitu terjemahan Nin Bakdi Soemanto. Saya baru membaca versi terjemahan Djokolelono. Tetapi sepertinya terjemahan Nin Bakdi Soemanto dan Max Arifin patut dicoba suatu saat—dan perlu diketahui bahwa Nin Bakdi Soemanto dan Max Arifin adalah penerjemah jempolan.

F – FAHMY YAMANI
Fahmy Yamani adalah penerjemah yang sangat prolifik. Dia menerjemahkan buku-buku Jorge Amado, Eugene Rogan, Sir Arthur Conan Doyle, Ismail Kadare, dan masih banyak lagi. Kalau buku-buku terjemahannya dikumpulkan kita bisa merancang sebuah tempat tidur yang luas dan nyaman dengan buku-buku itu. Dan begitu pulalah sensasi yang akan kita peroleh kalau membaca hasil terjemahannya—kita bakal merasa dia memiliki wawasan yang luas dan membuat kita nyaman membacanya.

Saya membaca Istana Mimpi karya Ismail Kadare (Serambi, 2012) yang dialihbahasakan oleh Fahmy Yamani. Terjemahannya mengalir, enak dibaca, dan tak ada bagian yang membuat saya mengerutkan kening.

Dalam ingatan saya nama Fahmy Yamani kadang tertukar dengan Femmy Syahrani (seorang penerjemah ulung yang menerjemahkan banyak buku, yang paling populer adalah To Kill a Mockingbird karya Harper Lee). Lantas secara tidak sengaja saya membaca satu artikel wawancara yang menyebut bahwa keduanya bersaudara—bahkan saudara kembar! Sungguh mengagumkan ada sepasang saudara kembar yang keduanya sama-sama penerjemah bermutu.

J – JONJON JOHANA
Ini mungkin salah satu penerjemah yang tak banyak orang perhatikan. Padahal dia adalah penerjemah banyak karya sastra Jepang bermutu. Dialah yang menerjemahkan Botchan Notsume Soseki, juga Dengarlah Nyanyian Angin dan Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Berkat terjemahan dia pulalah barangkali Aan Mansyur terpikirkan untuk membuat frase ‘Melihat Api Bekerja’ (frase yang belakangan melulu diulang dan diplesetkan).

Mencintai Murakami tanpa menyebut penerjemah satu ini merupakan pertanda kekufuran. Bersama Ribeka Ota, Jonjon Johana adalah nama yang harus dijunjung. Sebab berkat mereka kita jadi bisa melahap karya-karya Paduka Haruki Murakami; kita jadi tahu bahwa bisa muncul dua rembulan di langit, kucing bisa bicara, dan keterasingan bisa begitu seksi dibicarakan.

L – LUTFI MARDIANSYAH
Saya pertama kali mengenal nama ini sebagai seorang penyair yang puisi-puisinya kerap membuat saya merasa tolol dan sakit kepala. Sewaktu masih aktif menyalin puisi-puisi, saya beberapa kali menyalin puisi Lutfi Mardiansyah dan selama proses menyalin saya seperti orang yang tersesat di gua yang lengang dan gelap.

Pada kemudian hari Lutfi Mardiansyah lebih dikenal sebagai penerjemah (walaupun dia masih aktif membikin puisi, bahkan buku puisi terbarunya Di Tepi Rawi berpeluang memenangkan Sayembara Hari Puisi Indonesia 2020—sebuah penghargaan prestisius yang membuat saya tak terlampau heran jika Lutfi saat ini memperbanyak wirid agar jalannya dimudahkan oleh Allah untuk meraih penghargaan tersebut.

Dia sudah menerjemahkan banyak sekali buku sampai-sampai saya merasa bahwa semua buku yang dibacanya selalu ia coba untuk terjemahkan. Saya baru membaca sebagian kecil karya terjemahannya. Tahun ini saya membaca 6 karya terjemahannya. Yang paling mengesankan adalah dua buku terjemahan kumpulan cerpen Jorge Luis Borges, yakni Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina (Cantrik Pustaka, 2017) dan Parabel Cervantes dan Quixote (Gambang, 2016). Dalam dua terjemahan itu dia tampak bersungguh-sungguh menerjemahkan karya Borges seakan-akan takut berdosa kalau sampai keliru menerjemahkan barang satu huruf. Memang dia tidak menerjemahkannya secara langsung dari bahasa Spanyol. Dalam banyak kasus terjemahan langsung dari bahasa asli memang membawakan kesan orisinil, tapi saya tidak sepakat bahwa terjemahan langsung dari bahasa asli pasti lebih bagus. Terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang bagus walaupun harus melalui beberapa mata rantai. Dan terjemahan yang buruk adalah terjemahan yang buruk walaupun sang penerjemah menerjemahkan langsung dari tulisan tangan penulis asli.

Lutfi Mardiansyah adalah seorang pencinta Borges dan menyimpan cita-cita menerjemahkan koleksi lengkap cerpen Borges. Dia mungkin orang yang paling mencintai dan mengakrabi Borges yang saya kenal, sebagaimana Janoary M. Wibowo mencintai dan mengakrabi Calvino. Dalam menerjemahkan, pengetahuan atas bahasa sumber dan bahasa target bukanlah satu-satunya modal. Ini mungkin bakal terdengar picisan, tapi saya harus katakan bahwa cinta tak jarang menentukan hasil kerja. Selain pengetahuan dan kejujuran, cinta cukup berperan dalam menghasilkan terjemahan-terjemahan berkualitas. Tentu pernyataan saya ini bisa dibantah, tapi cinta yang sejati tetaplah sejati walaupun banyak orang mencoba membantahnya (duh, kok jadi cinta-cintaan).

W – WIDYA MAHARDIKA PUTRA
Dalam profilnya yang tercantum di bagian awal buku Bagaimana Si Miskin Mati (Oak, 2016) disebutkan bahwa selain menguasai bahasa Inggris, Widya Mahardika Putra bisa berbahasa Italia, Prancis, dan Jerman—dia poliglot. Biasanya seorang poliglot memiliki kecerdasan yang membumbung ke langit. Saya tidak bisa membuktikan apakah dia begitu cerdas sebagaimana lazimnya poliglot, tapi kalau membaca terjemahannya atas buku kumpulan esai Orwell yang sudah saya sebut di atas, dia memang penerjemah yang terampil dan baik. Saya sangat menikmati esai-esai yang diterjemahkannya seolah-olah saya membaca esai George Orwell dalam bahasa aslinya. Kesan sinis, lucu, dan jujur Orwell begitu terasa dalam terjemahan Widya Mahardika Putra.

Buku Bagaimana Si Miskin Mati menjadi salah satu nonfiksi terjemahan paling menyenangkan yang saya baca tahun ini. Sementara nonfiksi terjemahan paling tidak menyenangkan yang saya baca tahun ini adalah Salah Baca karya Umberto Eco yang diterbitkan oleh Diva Press.
***

(Mudah-mudahan saya sempat bikin ulasan pendek atas penerjemah-penerjemah lain. Masih banyak penerjemah bagus yang belum mendapat apresiasi yang layak.)

*) Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14. Blognya: setelahmembaca.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *