KLARIFIKASI GONG PUBLISHING ATAS TERBITNYA BUKU “KITAB YANG TAK SUCI”


Catatan Gol A Gong

Saya mengucapkan terima kasih kepada Sunlie Thomas Alexander yang sudah mengabarkan ini. Ketika saya mengomentari status Sunlie hari Selasa 16/2/2021, saya belum “ngeh”.

Rabu 17/2/2021 saya meeting bersama Abdul Salam (Menejer GongPublishing RumahDunia ) dan Hilman Lemri (Editor yang sudah bersertifikat). Saya meminta tolong kepada mereka, menceritakan kronologisnya. Begini ceritanya:

Semua dimulai akhir 2019. Rusmin Toboali datang ke Komunitas Rumah Dunia bertemu saya. Dia mengabarkan tentang rencana penerbitan buku “Kitab yang Tak Suci” karya Yudha. Dia datang bersama Yudha dan ayahnya.

Kata Salam, “Saat itu Mas Gong kaget karena ada endorsment dari Andrea Hirata.”

Saya diingatkan oleh Salam, mereka berfoto-foto. Seperti kebanyakan tamu, saya terima. Saya serius mendengarkan, karena spirit Rumah Dunia regenerasi, mendukung kelahiran penulis muda. Apalagi buku itu akan diluncurkan saat HUT Bangka Selatan.

Ada 20 Cerpen. Saya tidak ada waktu untuk membacanya. Nah, editing dan lay out berbarengan dengan pengurusan ISBN. Mereka memberi dana pra produksi Rp 1 juta. ISBN keluar plus draft cover buku.

Setelah editing selesai, Salam dan Hilman lapor, bahwa banyak cerpennya yang mirip dengan penulis yang sudah ada. Ketika penulisnya datang, kami memberi tahu bahwa ini menjiplak dan merupakan kejahatan karena mencuri cerpen karya orang. Kata Salam, “Yudha mau mengganti cerpen-cerpen itu.”

Pertemuan berikutnya awal 2020, sebelum pandemi Covid-19. Kami memutuskan batal. Dan naskah dikembalikan. Yudha minta dana Rp 1 juta dikembalikan. Salam keberatan karena sudah digunakan untuk honorarium cover dan editing. Lay out tidak kami berikan.

Rusmin menguatkan, “Dana jangan dikembalikan. Anak itu berbohong. Ayahnya memberi dana Rp 10 juta untuk proyek penerbitan buku ini. Tapi rencana untuk Gong Publishing Rp 5 juta. Uang muka baru Rp 1 juta.”

Setelah itu, saya lupa. Salam dan relawan lain sibuk dengan syuting film. Tapi Salam melakukan pembinaan. Memberi tahu penulis, bahwa itu plagiat.

Salam cukup kaget juga dengan terbitnya buku in setelah Sunli memposting di akun FB. Kami sudah melupakannya. Si penulis tidak meminta izin kepada kami. Kesalahan kami, terlalu percaya kepada anak itu dan kami lalai tidak membatalkan ISBN itu. Rencananya kami akan berkonsultasi dengan Perpusnas untuk membatalkan ISBN ini, apakah masih bisa dilakukan.

Saya sebagai pribadi, cukup kaget juga ketika buku ini terbit dengan bendera Mojok. Bagaimana bisa? Berani sekali ini anak. Gong Pub dan Mojok adalah pihak yang dirugikan. Saya memberikan komentar pula di status Sunli dan belum”ngeh” ini terkait ke Gong Publishing. Di Rumah Dunia sangat tabu menjiplak karya orang. Bahkan mengutip saja harus disebutkan sumbernya.

Akhir kata, Saya sebagai orang yang dituakan di Gong Publishing meminta maaf kepada semua penulis cerpen, yang cerpennya dijiplak di sini. Kami belum berhasil menemukan file naskahnya karena sudah kami anggap tidak penting.

Hanya itu yang bisa saya ceritakan. Kami akan semakin hati-hati dalam menerbitkan buku. Sebagai penulis, saya sering menghimbau, untuk bisa menghasilkan karya tulis itu harus melewati proses berdarah-darah, bukan pekerjaan satu malam.

Tetap semangat menulis!

Link-link terkait:
https://kucingoren3.blogspot.com/2021/02/si-tukang-plagiat-itu-bernama-r_15.html
lebih komplit link dalam kurung:
( https://sosial-media-sastra.blogspot.com/2021/02/r-sutandya-yudha-khaidar-si-tukang.html )
dan
https://sastra-luar-pulau.blogspot.com/2021/02/halu-tingkat-akut-pingin-jadi-penulis.html
dan
https://sastra-luar-pulau.blogspot.com/2021/02/pernyataan-prima-sulistya-editor-mojok.html
dan
http://sastra-indonesia.com/2021/02/r-sutandya-yudha-khaidar-kejahatan-seriusnya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *