PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (1)

Djoko Saryono *

Embrio sastra Indonesia sudah tampak jelas pada paruh kedua Abad XIX. Bisa dikatakan bahwa pada akhir Abad XIX sudah publikasi karya sastra berupa cerpen, roman [novel], dan puisi yang bercitra dan bersemangat Indonesia atau minimal bisa diidentifikasi telah membayangkan keindonesiaan. Sebagai contoh, semenjak 1870-an sudah dipublikasikan cerpen Indonesia di beberapa media massa sebagaimana dapat diperiksa dalam buku Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerita Pendek Periode Awal [1870-an–1910-an] yang dihimpun dan diterbitkan oleh Pusat Bahasa (2005). Continue reading “PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (1)”

Puisi-Puisi Fatah Anshori

Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara lahir. Continue reading “Puisi-Puisi Fatah Anshori”

Bahasa »