Air Mata di Atas Lapak

Ahmad Zaini*
Radar Bojonegoro, 20 Okt 2011

Bekas-bekas lapak dagangan berserakan di sekitar bongkaran pasar. Papan, usuk, balok, serta bekas atap lapak porak poranda tak tentu arah. Gundukan-gundukan barang dagangan masih tercecer di setiap sudut bekas tempat jualan para pedagang. Puluhan aparat keamanan terlihat berlalu-lalang mengantisipasi agar tidak ada gerakan warga atau para pedagang yang ingin menggagalkan pembongkaran pasar yang sudah dilegalkan atau diprogramkan oleh pemerintahan setempat. Continue reading “Air Mata di Atas Lapak”

Warna Melayu dalam Negeri Anyaman

Joni Lis Efendi *
Riau Pos, 12 Des 2010

MENYEBUT “Melayu” pada dasarnya kita membicarakan tentang suatu ras yang memiliki karakter dan ciri-ciri fisik yang khas, terutama bentuk tubuh dan berkulit sawo matang. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Melayu merupakan hasil pencampuran antara ras Mongolia yang berkulit kuning, Dravisa yang berkulit hitam, dan Arian yang berkulit putih. Dalam pengertian ini, semua orang yang berkulit coklat (sawo matang) di seluruh Nusantara bisa digolongkan sebagai ras Melayu. Continue reading “Warna Melayu dalam Negeri Anyaman”

Dominasi Estetika

Beni Setia
Pikiran Rakyat, 12 Des 2010

SECARA sederhana, apa yang diributkan sebagai politik sastra itu (barangkali) cuma merujuk ke semacam manipulasi kuasa nonsastra untuk menegakkan otonomi sastra. Baik dengan memanfaatkan modal, dominasi, maupun pemaksaan kriteria sastrawi dengan ditunjang referensi yang luas untuk sekadar melakukan pengangkangan selera keredaksian media massa. Yang menyebabkan hadir sebuah model ekspresi, corak estetika, dan kriteria kebermutuan karya sastra dominan, yang diperkenalkan c.q. teks kritik dan paparan esai sehingga terbentuk preferensi redaksional seni budaya di media massa yang intoleran pada karya yang tak sesuai standar eksklusif tersebut. Continue reading “Dominasi Estetika”

Kota dan Penyair

Juniarso Ridwan
Pikiran Rakyat, 12 Des 2010

SEBUAH kota tidak serta merta hadir untuk memenuhi deretan daftar keinginan manusia penghuninya. Tidak juga diproyeksikan untuk mengaktualisasikan harapan yang semakin jenuh. Sebuah kota merupakan perwujudan kompromi yang saling berkaitan antara keinginan manusia, bentuk lahan, kondisi topografi, kekayaan alam, posisi tapak, orientasi terhadap lingkungan sekitar, kondisi tanah, kemampuan merekayasa, kemampuan ekonomi, jangkauan administrasi dan legislasi, lalu-lintas sosial-budaya, serta harapan-harapan yang terus tumbuh. Continue reading “Kota dan Penyair”

Bahasa »