Gagasan Besar yang Remuk Redam

Judul : Taman Api
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 216 hlm
Peresensi : Aris Kurniawan *
lampungpost.com

GAGASAN besar acap lebih menggoda pengarang untuk diketengahkan ketimbang peristiwa-peristiwa kecil. Padahal gagasan besar mempunyai banyak risiko kegagalan jika tidak didukung perangkat yang cukup untuk mewujudkannya. Inilah yang terjadi dengan novel Taman Api garapan Yonathan Rahardjo. Continue reading “Gagasan Besar yang Remuk Redam”

Sastra Biner

Beni Setia *
lampungpost.com

Dua tahunan yang lalu, seorang teman dari temannya temanku meneruskan SMS dari seorang kawan dari kawannya temanku itu, bunyinya sederhana sekali: “Akhirnya saya memutuskan menolak tawaran ikut UK Intl. Literary Biennale 2009″.

TIDAK ada yang istimewa dari SMS yang diterima pertengahan Maret ini, selain seseorang tak nyaman atau tak bisa hadir pada satu acara, dan karenanya ia menolak undangan buat berpartisipasi dalam acara itu. Continue reading “Sastra Biner”

Puan Tanjung

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

AKAN kurampungkan kisah ini lebih cepat karena memang aku bukan Syahrazad. Dan aku bukan pula seorang pelaut dalam dongeng pengembaraan Simbad. Aku hanya pelaut yang mendadak kehilangan selera hidup setelah apa yang tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja. Continue reading “Puan Tanjung”

Tiga Usia Jacques Derrida (Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi)

Wawancara Kristine McKenna ini dimuat LA Weekly, 9 April 2003. Diterjemahkan ANTARIKSA

Ketika orang berbicara tentang intelektual Prancis yang gila dan superstar esoteris, ketika mereka tersandung oleh kata dekonstruksionisme di Entertainment Weekly dan bertanya-tanya apa kira-kira artinya, ketika para mahasiswa di seluruh dunia dipaksa untuk memahami apa artinya, seperti yang sudah mereka lakukan selama 20 tahun ini, semuanya mesti dikembalikan kepada Jacques Derrida. Continue reading “Tiga Usia Jacques Derrida (Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi)”

Bahasa »