Langit Makin Mendung (Ki Panji Kusmin)

Ki Panji Kusmin

Lama-lama mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di sorga loka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang bisa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.” Continue reading “Langit Makin Mendung (Ki Panji Kusmin)”

Tentang Sajak Dody Kristianto

Eva Dwi Kurniawan

Dody Kristianto, nama yang kini menjadi perhatian saya. Seorang sarjana sastra.
Sudah lama saya memendam sebuah rasa yang aneh. Rasa yang tersamar-samar mengatakan bahwa kawan saya itu, Dody, akan menjadi seorang penyair baik. Penyair yang resah dengan bahasa dan selalu menemukan kegagalan dalam menyusunnya. Sebab, yang namanaya sajak, tidak akan pernah berhasil diciptakan. keberhasilannya ialah ketika sajak itu dirasakan gagal. Dan sebab gagal itulah, usaha untuk menyusunnya kembali, dilakukan. Dan sudah pasti, akan terjadi kegagalan lagi. Begitulah, serupa kutukan Zeus kepada Syisipus. Continue reading “Tentang Sajak Dody Kristianto”

Alqur’an, Keindahan Aural, dan Puisi

Asarpin *

Tradisi membaca Qur’an dalam Islam dinamakan tilawah. Bentuk resital yang paling populer di tanah air adalah pembacaan Alqur’an secara murattal, atau ritmik, yang juga sering disebut tartilan. Tradisi ini di negeri kita biasanya dilombakan dalam festival Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). Dalam MTQ, yang ditonjolkan adalah Alqur’an sebagai keindahan aural (keindahan yang didengarkan), bukan yang dituliskan. Bacaan Alqur’an yang aural dilantunkan begitu merdu, begutu indah, seperti puisi kanonik yang kaya akan semesta metafora dan gaya. Continue reading “Alqur’an, Keindahan Aural, dan Puisi”

Dua Kota Dua Kepala

Deddy Arsya
harianhaluan.com

Pernahkah kau mendengar sebuah lagu, atau beberapa lagu, dengan begitu banyak nama kota disebutkan di dalamnya? Ketika lirik-lirik dalam lagu itu dibuat, kota-kota itu masih berupa dusun-dusun kecil dengan orang-orang yang saling mengenal satu sama lain. Dan kini, ketika kau mendengar nyanyian itu (secara kebetulan atau sengaja kau menca­rinya di toko-toko kaset di kota-kota kami, kota-kota yang menjual nyanyian yang mencatat dirinya sendiri) maka dusun-dusun itu telah menjadi kota yang ganjil, kota besar atau kota kecil, atau di antaranya? Continue reading “Dua Kota Dua Kepala”

Bahasa »