Bulan Kertas

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 121

Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.

Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku” Continue reading “Bulan Kertas”

Menuju Format Baru Pengajaran Sastra *

(Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Ahmadun Yosi Herfanda **
Republika, 22 April 2007

PENGAJARAN sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding aspek apresiasi sastra — umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Mereka, misalnya, umumnya lebih mengenal Britney Spears atau Westlife di negeri Paman Sam daripada Abdul Hadi WM di negeri sendiri. Continue reading “Menuju Format Baru Pengajaran Sastra *”

Pengajaran Sastra Berpusat pada Karya Sastra*

(Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)
Ahmadun Yosi Herfanda**
Republika, 29 April 2007

DENGAN merumuskan tujuan pengajaran apresiasi sastra ke TIU dan menjabarkannya ke TIK seperti di atas, target peningkatan apresiasi sastra siswa yang semula terkesan abstrak dan sulit diukur hasilnya, menjadi lebih jelas, operasional, dan terukur.

Namun, cara mengukur tingkat keberhasilannya tidak sama dengan aspek pengetahuan dan teori sastra. Dalam tes atau ujian untuk aspek pengetahuan (sejarah) sastra, pada lembar tes tinggal meminta siswa untuk menyebutkan, misalnya, tiga nama tokoh Angkatan 66. Continue reading “Pengajaran Sastra Berpusat pada Karya Sastra*”

Menunggu ‘Godot’ Pengajaran Sastra Indonesia*

(Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan)
Ahmadun Yosi Herfanda**
Republika, 6 Mei 2007

PERSOALAN utama yang hingga kini masih menghambat pengembangan pengajaran sastra di sekolah menengah umum (SMU) adalah masih melekatnya pengajaran sastra pada mata pelajarah bahasa (Indonesia). Persoalan utama ini sudah sering digugat oleh para akademisi sastra dan sastrawan, misalnya Suminto A Sayuti dan Taufiq Ismail, tapi masih saja berlangsung seperti itu. Continue reading “Menunggu ‘Godot’ Pengajaran Sastra Indonesia*”

Bahasa »