Tuhan dalam Bahasa Indonesia

Rohman Budijanto *
Majalah Tempo, 27 Jun 2010

Di saat kosmologi maju pesat, umat beriman masih belum juga menyesuaikan konsep di mana keberadaan Tuhan. Dalam kelaziman ungkapan sehari-hari, kuat terkesan Tuhan masih ditempatkan di atas, sehingga kata ganti Tuhan adalah “Yang di Atas”. Padahal, dalam konsep dan observasi kosmologi, tak ada atas dan bawah. Semua posisi relatif, tergantung pandangan pengamat. Continue reading “Tuhan dalam Bahasa Indonesia”

Perca-Perca Bahasa Holy Adib

Djoko Saryono *

Memasuki puasa Ramadan saya menjumpai Holy Adib si pendekar bahasa untuk belajar silat bahasa Indonesia yang tepat dan tangkas, bukan sekadar silat lidah. Betapa silat lidah berbahaya, bahkan sia-sia karena dapat menjadikan puasa tanpa faedah. Jurus-jurus apa pun silat lidah niscaya tak mendatangkan berkah, hanya menimbulkan tikai komunikasi dan bisa berujung pertikaian raga. Sebaliknya, silat bahasa akan penuh guna, bisa membuat interaksi berdaya dan sarat kehangatan. Malah dapat merawat kebersamaan dan memperkuat tali jalinan persaudaraan atau perkauman. Continue reading “Perca-Perca Bahasa Holy Adib”

KEKUATAN MASYARAKAT DIAM

Aprinus Salam *

Kekuatan besar dalam suatu negara terletak pada masyarakatnya yang diam, atau memilih diam. Dalam proses sejarah politik dan sosial yang panjang, banyak orang terpaksa belajar diam. Mereka memilih diam karena tidak ingin ada kegaduhan yang tidak penting.

Lebih dari itu, mereka memilih diam karena mereka memiliki pendapat sendiri, sesuai dengan proses negosiasi yang ada dalam ruang kesadaran diri dan pikiran mereka masing-masing. Continue reading “KEKUATAN MASYARAKAT DIAM”

Bahasa »