FRAGMEN-FRAGMEN YANG GANJIL, CERITA YANG MAIN-MAIN

Erwin Setia *

Bagian paling menyenangkan dalam membaca cerita-cerita Budi Darma adalah ketika kita menemukan fragmen-fragmen yang ganjil. Dalam Olenka ada adegan di mana Olenka meloncat-loncat ke sana kemari bagai tupai. Dalam Ny. Talis (Kisah mengenai Madras) banyak pula adegan tokoh-tokoh yang melompat; ada yang melompat dari pohon ke pohon, dari dinding ke dinding, meniti tali, salto, dan sebagainya. Bahkan Madras dan kedua orang anaknya—Wiwini dan Sidrat (Madrasi Kwadrat)—serta menantu Madras yang bernama Leni punya kebiasaan melompat-lompat. Sampai-sampai sewaktu kecil Leni—istri dari Sidrat—dijuluki Tarzan Betina karena dia hobi loncat-loncat sambil hanya mengenakan kutang dan cawat. Continue reading “FRAGMEN-FRAGMEN YANG GANJIL, CERITA YANG MAIN-MAIN”

WAFATNYA JOEN SOEGANDA

Taufiq Wr. Hidayat *

Bagi orang sepenting Joen Soeganda—yang kaya dan berkuasa, kepergiannya meninggalkan dunia fana ini disebut “wafat” atau “mangkat”. Dan bagi yang tidak sepenting Joen Soeganda, orang akan menyebut kematian seseorang dengan kata “tewas”, “mati”, “modar”, “beres”, “selesai”, “tamat”, atau “dead”. Kata-kata kasar seperti itu sangat tidak layak untuk menyebut kematian Joen Soeganda. Siapa yang berani berkata seperti itu? Joen Soeganda bukan orang sembarangan! Dia orang mulia, orang agung, baik, kaya raya, gemar memberi sembako sama orang-orang miskin. Bahkan kata “wafat” untuk menyebut kematiannya pun terasa kurang sopan. Continue reading “WAFATNYA JOEN SOEGANDA”

NGOPI FIKSI #6

Hendy Pratama

Kelas menulis cerpen masih berlanjut. Selasa kemarin (03/11), kelas dihadiri oleh 5 peserta. Akhir-akhir ini, saya memang jarang mengunggah foto kegiatan ke Facebook. Itu karena saya lagi malas saja, dan bukan karena alasan tertentu. Dan oleh sebab hari ini saya sedang tidak malas, saya ingin sedikit bercerita soal kelas lanjutan. Continue reading “NGOPI FIKSI #6”

6-7 Pentigraf Siwi Dwi Saputro

6. Perempuan Pemecah Batu Di Kaki Gunung Merapi

“116. Seorang pemecah batu harus tahu serat-serat batu.”

Dari Perempuan itu, yang selalu memecah batu-batu, di sepanjang jalan menuju Kinahrejo, di kaki lereng Merapi, aku belajar banyak. “Kau harus tahu serat-seratnya” katanya pada suatu senja, ketika bunga-bunga mulai menebarkan wangi yang tak biasa. Kabut pun turun. Bunga kopi mengajakku menari bersama harumnya. Meliar aku. Continue reading “6-7 Pentigraf Siwi Dwi Saputro”

Bahasa »