GIBRAN, ATTAR, DAN INGATAN TENTANG CINTA

Mashuri *

Saya lebih dulu mengenal Gibran daripada Attar. Saya mengenal Gibran ketika duduk di bangku Aliyah. Mungkin persoalannya sederhana. Buku-buku Gibran tersedia di perpustakaan umum kota, sedangkan buku-buku Attar tidak ada, sehingga saya sering membaca karya Gibran, terutama Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Sayap-sayap Patah yang berderet rapi di perpus kota. Semuanya terbitan Pustaka Jaya. Continue reading “GIBRAN, ATTAR, DAN INGATAN TENTANG CINTA”

KOPLO

Indra Tjahyadi *

Koplo, begitulah orang kampung kami biasa memanggilnya. Dia terlahir dengan nama Supeli. Emaknya, Mbok Dar, adalah seorang bekas pelacur murahan yang ketika masih dines dulu sering terkena penyakit kelamin. “Sipilis!” begitu kata Kak Muali, seorang bandar dadu yang rumahnya persis di sebelah rumahku, beberapa tahun yang lalu. Continue reading “KOPLO”

BUKU LAMA DAN LAYANG-LAYANG

Sunu Wasono

Saat lagi beres-beres buku, awak menemukan buku lama, buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas III SD. Buku ini dicetak pada tahun 1975 (saat itu awak sudah duduk di bangku SMA kelas 2). Menarik juga mempelajari kembali buku lama. Ada diksi yang kurang awak pahami, misalnya buah peria. Setelah awak cek di kamus, ternyata kata itu ada di KBBI. Malah di kamus dicontohkan peribahasa yang bunyinya begini: “Pucuk diremas dengan santan, urat direndam dengan tengguli, lamun buah peria pahit juga.” Adapun maknanya ‘orang yang tabiatnya jahat, sekalipun diberi kekayaan dan pangkat, sifatnya tak akan berubah’ (KBBI, Edisi Keempat, Tahun 2008, hlm. 1055). Continue reading “BUKU LAMA DAN LAYANG-LAYANG”

Bahasa ยป