“ANAK INI MAU MENGENCINGI JAKARTA?”

Ahmad Tohari *

Tentu tidak ada penumpang yang setuju kereta api malam dari timur itu berhenti sesaat menjelang stasiun Pasar Senen. Tapi nyatanya kereta api itu benar-benar berhenti. Entah ada apa di depan sana. Penumpang yang sudah bangun banyak yang mengeluh. Tiga laki-laki secara bersamaan melihat jam tangan mereka dengan wajah kecut. Masinis di ruang kemudi dan dua kondektur di gerbong paling depan mendesah kesal. Continue reading ““ANAK INI MAU MENGENCINGI JAKARTA?””

Haiku dan Kematian

Mario F. Lawi *
Pos Kupang, 8 Jan 2015

PAYA tua beradu cendera/Tersingkir, sunyi./Katak terjun, plung. Demikian salah satu terjemahan Amir Hamzah atas haiku yang diciptakan Matsuo Basho (1644-1694) pada tahun 1686 dalam kumpulan karya terjemahannya Setanggi Timur (1939). Tujuh tahun setelah mengumumkan Setanggi Timur, Amir Hamzah tewas dibunuh dalam sebuah tragedi di kesultanan Langkat. Dalam sebuah esai berjudul “Haiku” (Kompas, 16 Oktober 2005), Hasif Amini mengutip sebuah terjemahan atas haiku tersebut menjadi seperti ini: Kolam tua/Seekor katak terjun/Plung. Continue reading “Haiku dan Kematian”

BAHASA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF KEBHINIKAAN

(Suatu Tawaran Kajian)

Aprinus Salam *

Sebelum Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, orang Indonesia berbicara dalam bahasa Ibu (dalam bahasa lokalnya masing-masing). Memang, jauh waktu sebelum itu bahasa itu mengalami lingua franca. Akan tetapi, pengertian lingua franca lebih dalam pengertian untuk digunakan dalam komunikasi formal (hubungan perdagangan). Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu itu pun juga sudah cukup jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia yang dikenal sekarang. Continue reading “BAHASA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF KEBHINIKAAN”

Bahasa »