MAKA MENGALIRLAH IA
Maka mengalirlah ia
dan buihpun musnah oleh sesapuan angin
Maka mengalirlah ia
membawa sampan sampai muara Continue reading “Empat Puisi Bambang Kempling”
MAKA MENGALIRLAH IA
Maka mengalirlah ia
dan buihpun musnah oleh sesapuan angin
Maka mengalirlah ia
membawa sampan sampai muara Continue reading “Empat Puisi Bambang Kempling”
: PARADIGMA KAJIAN WACANA
Djoko Saryono *
/1/
Dimensi-dimensi makna wacana tak dapat terlepas dari adanya berbagai paradigma kajian wacana (discourse studies paradigm) yang masing-masing memiliki perbedaan asumsi tentang bahasa (Renkema, 1993). Sampai sekarang, paling tidak ada tiga paradigma utama kajian wacana yang masing-masing memiliki dan mengembangkan asumsi berbeda tentang bahasa. Continue reading “DIMENSI-DIMENSI WACANA (2)”
Djoko Saryono
Dalam bahasa Indonesia, istilah wacana dipadankan dengan istilah diskursus, yang diadaptasikan dari istilah discourse. Istilah ini dipakai baik oleh para ahli bahasa, ilmuwan sosial maupun filosof sehingga pengertian wacana menjadi beraneka ragam. Dalam perspektif ahli bahasa, wacana didudukkan sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat atau paling besar. Continue reading “DIMENSI-DIMENSI WACANA (1)”
IMAN, PUISI, PRIBADI
Pagi, kita membaca kalimat menenangkan: “Selama iman ini masih berdetik dalam dada, laksana detiknja djam tengah malam, selama itu pula kita tidak akan kekurangan kerdja. Iman senantiasa menumbuhkan amal saleh!” Kalimat terbaca di Pandji Masjarakat edisi 15 Desember 1959. Lama, Bandung M tak memikirkan atau menulis iman. Kata itu pernah membikin pusing saat menjadi murid SD dan ikut TPA. Bocah diminta menjelaskan iman. Ah, ingatan sering bolak-balik: rukun iman. Continue reading “7 Capil Bandung Mawardi”

A. Syauqi Sumbawi * Continue reading “LORONG ASING DALAM ZIARAH”