Rindu
Api itu menunggu.
Enggan padam.
Pada setiap pohon, ia
mencari jawaban —
apakah kau bagian dari dunia?
Api itu diam.
Duduk bersama angin. Membiru. Continue reading “Tujuh Puisi Dedy Tri Riyadi”
Rindu
Api itu menunggu.
Enggan padam.
Pada setiap pohon, ia
mencari jawaban —
apakah kau bagian dari dunia?
Api itu diam.
Duduk bersama angin. Membiru. Continue reading “Tujuh Puisi Dedy Tri Riyadi”
Bias Bisu Suara
air yang datang dari hujan itu
membawa bayangan-bayangan ombak
deras
tapi tak bersuara.
hening membiaskan cahaya renta batu hitam
sandaran tubuh lelahmu
di mana pernah kau tulis
tentang sejumlah nama
: tak ada yang berbekas
Ia hanyut bersama gericik air Continue reading “Tiga Puisi Bambang Kempling”
Kepada Klaudia Pyokula
/1/
Tak terbenam gelisah yang mengendap pada kujur kita. Kita bertolak dari kenangan yang membatu di istana kaisar dan misteri beranda Yerusalem yang belum dapat kita terawang. Continue reading “Enam Puisi Petrus Nandi”

Saut Situmorang Continue reading “Realisme Fiksi Indonesia”
Djoko Saryono *
/1/
Dalam pemikiran sastra atau teori sastra modern dan malah mutakhir, paradigma kebahasaan berperanan sangat kuat dalam menentukan keberadaan sastra dan mencipta¬kan definisi sastra. Bahasa menjadi alas, dasar, dan landasan keberadaan dan definisi sastra. Pemikiran Rolland Barthes, Roman Jakobson, Gerard Genette, Tzvetan Todorov, Julian Kristeva, Derrida, dan Colin MacCabe, misalnya, menempatkan bahasa sebagai paradigma keberadaan dan pendefinisian sastra. Demikian juga teori-teori formalis, stilistika, strukturalis, pascastrukturalis, hermeneutika, dan dekonstruksi, misalnya, melihat keberadaan dan definisi sastra melalui bahasa. Continue reading “RISIKO SASTRA DI BAWAH SUBORDINASI BAHASA”