Tiga Puisi Bambang Kempling

Bias Bisu Suara

air yang datang dari hujan itu
membawa bayangan-bayangan ombak
deras
tapi tak bersuara.

hening membiaskan cahaya renta batu hitam
sandaran tubuh lelahmu
di mana pernah kau tulis
tentang sejumlah nama
: tak ada yang berbekas
Ia hanyut bersama gericik air

lalu dalam bening sampai
ada yang menari-nari menuju samudra
: kehidupan baginya bermasa

cericit burung-burung kecil
menyelinap di antara perdu dan hujan
dua bukit bertudung pelangi

ketika kau baringkan tubuh
tiba-tiba kau tersentak oleh suara senapan.

haripun lepas senja.

Mengiris Luka Malam

bulan masih memancar
ketika bualan-bualan mengiris luka malam
hening yang jauh
semakin menjauh

apa yang hendak kita kikis sebenarnya,
seekor ulat di suatu dahan ataukah keindahan kupu-kupu
pada suatu pagi?

malam terlanjur berbisa untuk kita taburi bunga
sekuncup tarian lunglai dalam syahwat.

Pada Sebuah Lorong

Memasuki lorong ini
entah sampai ujungkah
tapak kakimu bergema
atau hanya tercekat diam
di lantai bersama deretan cerita yang memanjang.

Menelusuri lorong ini
dalam riuh gema
kau sendiri
sibuk menafsir sebuah perjalanan.

Lawang Sewu, Semarang, 6 September 2020


_________________
Bambang Kempling, penyair kelahiran Lamongan, Jawa Timur 1967. Alumnus UMM jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Puisi-puisinya masuk antologi Tunggal Kata Sebuah Sajak (Kostela 2002), Antologi Rebana Kesunyian (KOSTELA 2002), Imajinasi Nama, Permohonan Hijau (FSS 2003), Cakrawala Puisi Indonesia, Duka Aceh Duka Bersama (DKJT 2005), Tadarus Sang Begawan (Pustaka Ilalang 2019), serta di media Indupati dan tabloid Telunjuk. Salah satu antologi Tunggalnya bertitel “Persinggahan Bayang-bayang” Penerbit Pustaka Ilalang, 2014.

One Reply to “Tiga Puisi Bambang Kempling”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *