Catatan Singkat: Merdeka itu Berjalan di atas Cita-cita!

Nurel Javissyarqi *

Sudah lama tak menulis lewat status facebook. Untuk memulainya kembali, yang ringan-ringan dulu. Kali ini, ditujukan pada orang-orang yang mencemburi saya atas kengangguran diri pribadi. Semoga nanti, tiadalah terbersit tindakan somse, kecuali demi mereka tak cemburu lagi atau kembalilah saling menginsyafi. Ada-ada saja pertanyaan seolah ingin tahu perputaran uang di saku, semisal “Selama ini tidak pernah menghasilkan uang dari website?” Batin ini agaknya berontak, “Jangan hubungkan sastra dengan uang di hadapan saya!” Selanjutnya, sambil dengar musik Mehter Ottoman, diperturutkan ini lelangkah… Bismillah… (Sepertinya agak sungkan, tapi biarkanlah dituntaskan guna pada ‘mingkem’, dan tiada pertanyaan semacam itu lagi). Continue reading “Catatan Singkat: Merdeka itu Berjalan di atas Cita-cita!”

SANG PENYAIR YANG DISELIMUTI

Taufiq Wr. Hidayat *

Ia mengenangkan hari-hari ketika semuanya masih utuh. Pohon mangga. Dan tikungan jalan yang dilewati gadis kecil saat petang. Perjalanan yang panjang, membawanya pulang, merebahkan desah pada harapan, menidurkan kelelahan ke dalam mimpi malam. Di situ, ia dipanggil-panggil kekasihnya. Menawarkan padanya mata air kesadaran, mata air yang menganugerahkan kesembuhan dari segala rasa sakit yang selalu menghebat ketika malam dengan kepedihan yang tak tertahankan. Continue reading “SANG PENYAIR YANG DISELIMUTI”

YANG MEMENGARUHI APRESIASI SASTRA (12)

Djoko Saryono *

Sebelumnya sudah diulas pengalaman sebagai satu faktor yang memengaruhi apresiasi sastra. Ikut juga memengaruhi kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra beserta varian-variannya ialah pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh pengapresiasi. Kekayaan, keanekaragaman, kedalaman, keluasan, dan kebermaknaan pengetahuan pengapresiasi memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi baik kecenderungan maupun varian-variannya. Pengetahuan yang dimaksud di sini bermacam-macam, antara lain sebagai berikut. Continue reading “YANG MEMENGARUHI APRESIASI SASTRA (12)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (19)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Begitulah, malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat diraih. Umi telah menjatuhkan vonis; Fatma harus menikah dengan Salman. Harus! Kecuali Fatma punya nyali besar pergi meninggalkan rumah. Menggagalkan semua rencana Umi. Memudarkan semua ambisi Umi. Semalam pikiran semacam itu memang sempat mengganggu Fatma. Tapi Fatma masih meragukan keberanian yang ia miliki. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (19)”

Bahasa »