
Sylvianita Widyawati Continue reading “Novelis Felix K. Nesi: Malang Seperti Rumah Saya Sendiri”
Cara Felix K. Nesi Melahirkan Orang-Orang Oetimu
Dikirim dari E-Mail Yahoo ke Google
Indria Pamuhapsari *
Jawa Pos, 31 Okt 2019
Orang-Orang Oetimu lahir lewat kertas folio, lalu dipindah ke laptop pinjaman, dicetak, diedit ulang, kemudian diketik lagi. Karena tak ada uang, tumpukan dokumen awal novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta itu sudah habis dikilokan. Continue reading “Cara Felix K. Nesi Melahirkan Orang-Orang Oetimu”
Mayat-mayat yang Hilang
Felix K. Nesi *
Koran Tempo, 4-5 Nov 2017
SANGKANYA anak-anak kampung itu baru saja meringkus pencuri mayat yang telah mereka sasar berbulan lamanya. Saat langit tak berbintang dan dingin musim hujan bersekongkol membekukan seisi kampung, saat ia baru saja akan mendaki puncak kesenangan bersama istrinya, seorang pemuda tanggung digiring ke rumahnya. Neno, demikian pemuda itu disebut, telah mendapat hajar sesudah aksi kejar-kejaran yang panjang, sebab mulutnya nyonyor berdarah-darah dan tubuhnya yang hampir telanjang itu penuh luka gores, peninggalan semak duri lantana. Continue reading “Mayat-mayat yang Hilang”
Usaha Membunuh Sepi, Felix K. Nesi

Yohanes Sehandi * Continue reading “Usaha Membunuh Sepi, Felix K. Nesi”
Novel Orang-Orang Bertopeng (20)
Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002
Teguh Winarsho AS
Ya, semua orang boleh bahagia. Mengumbar senyum. Mengumbar tawa. Tapi tidak dengan Fatma. Semakin mendekati hari pernikahan Fatma semakin sedih dan cemas. Larut malam Fatma sering terjaga dari tidur dengan tubuh gemetar basah keringat, menggigil ketakutan. Bahwa kini ia bersedia menerima Salman sebagai suami, adalah keterpaksaan yang tak bisa dihindari. Pernyataan cintanya pada Salman, paksaan Umi yang sampai menjatuhkan pilihan sulit; menikah dengan Salman atau pergi dari rumah adalah penjara yang mengurung Fatma. Penjara yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar penjara yang dibatasi tembok tebal atau lonjoran-lonjoran besi tua. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (20)”
