Mayat-mayat yang Hilang

Felix K. Nesi *
Koran Tempo, 4-5 Nov 2017

SANGKANYA anak-anak kampung itu baru saja meringkus pencuri mayat yang telah mereka sasar berbulan lamanya. Saat langit tak berbintang dan dingin musim hujan bersekongkol membekukan seisi kampung, saat ia baru saja akan mendaki puncak kesenangan bersama istrinya, seorang pemuda tanggung digiring ke rumahnya. Neno, demikian pemuda itu disebut, telah mendapat hajar sesudah aksi kejar-kejaran yang panjang, sebab mulutnya nyonyor berdarah-darah dan tubuhnya yang hampir telanjang itu penuh luka gores, peninggalan semak duri lantana. Continue reading “Mayat-mayat yang Hilang”

Novel Orang-Orang Bertopeng (20)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Ya, semua orang boleh bahagia. Mengumbar senyum. Mengumbar tawa. Tapi tidak dengan Fatma. Semakin mendekati hari pernikahan Fatma semakin sedih dan cemas. Larut malam Fatma sering terjaga dari tidur dengan tubuh gemetar basah keringat, menggigil ketakutan. Bahwa kini ia bersedia menerima Salman sebagai suami, adalah keterpaksaan yang tak bisa dihindari. Pernyataan cintanya pada Salman, paksaan Umi yang sampai menjatuhkan pilihan sulit; menikah dengan Salman atau pergi dari rumah adalah penjara yang mengurung Fatma. Penjara yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar penjara yang dibatasi tembok tebal atau lonjoran-lonjoran besi tua. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (20)”

Bahasa ยป