Puisi Gelap Holocaust

Sita Planasari A
http://www.korantempo.com/

Butuh waktu setahun untuk menggarap terjemahan karya-karya Celan.

Jakarta – Empat pria berjalan dalam temaram panggung. Kemudian ada yang terdiam, ada yang menandakkan kakinya hingga berbunyi seperti barisan serdadu yang tengah berbaris. Ada pula yang melayangkan cambuk ke udara hingga terdengar rintih suara manusia yang terluka dan seorang, yang lain terjerembab di lantai, berusaha merangkak dengan kepayahan. Continue reading “Puisi Gelap Holocaust”

NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN

(Bukan berarti kita tidak perlu mampir ke Barat atau Timur)
Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Corak budaya satu warna yang bertaraf nasional yang mengiringi kekuasaan Orde Baru ternyata mempunyai imbas yang signifikan terhadap tradisi dan budaya yang bercorak kedaerahan. Kisah-kisah, kearifan, ataupun dongeng asal-usul suatu daerah menjadi tertepiskan oleh jargon-jargon yang mendukung pembangunan nasional, sebagaimana dicanangkan oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto. Contoh paling gampang adalah pudarnya kekuatan baureksa sebagai penguasa di suatu daerah. Continue reading “NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN”

AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR

Maman S. Mahayana *

Mungkinkah seseorang yang tidak lulus SMA dapat memperoleh gelar doktor honoris causa (doktor kehormatan yang diberikan sebuah institusi pendidikan atau universitas), bahkan mendapat sebutan professor pula? Di Indonesia yang segala sesuatunya sering harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, pernah menimbulkan masalah. Continue reading “AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR”

Bahasa ยป