“Poem of Blood”: Tragika Kuda ala Ugo Untoro

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 1 April 2007

Memasuki pameran Ugo, seketika tatapan mata tiba-tiba disergap dan dilemparkan ke padang penuh kebiadaban. Nyata benar di sana, panorama dunia kuda yang tragis; mata bolong, bangkai tersungkur, jejeran kulit terpajang bak mantel atau handuk, potongan kaki berupa sepatu kuda, tato api bertatah kata dislomotkan di kulit, goa bersuara ringkik kuda. Bagi penonton, yang tak akrab menyaksikan kekejian; inilah suguhan ganas tapi komtemplatif yang menyayat kesadaran. Continue reading ““Poem of Blood”: Tragika Kuda ala Ugo Untoro”

Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata

Theresia Purbandini
jurnalnasional.com

Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental. Continue reading “Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata”

MAOS-PATI

Nurel Javissyarqi *

Cerita ini terjadi tahun 2000 kalau tidak keliru. Saat itu saya mengajak cerpenis Satmoko Budi Santosa (asli Yogya) dan penyair Marhalim Zaini (asli Riau) ke rumah saya di Lamongan. Tanggal, bulan saat itu seakan terlupakan, sebab masa-masa tersebut, diri tengah menjalani sebuah lelampahan ganjil, lelaku tak logis bagi faham pelajar atau mahasiswa, tapi sangat riel di mata keseimbangan bathin. Continue reading “MAOS-PATI”

Kekalahan Kita terhadap ‘Post-Modernism’

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

“Ada yang tertinggal di dalam dunia post-modernism,” ujar David Legman (2003). Artikel yang ditulisnya pada News Week edisi Maret tahun yang sama semakin mengingatkan kita tahu bahwa post-modernism yang diusung secara kultural oleh agamawan, politisi, dan cendekiawan ternyata melahirkan bangsa yang rendah. Indonesia-lah yang mungkin terakhir kali sebagai suatu bangsa dikoloni oleh bangsa-bangsa lain. Continue reading “Kekalahan Kita terhadap ‘Post-Modernism’”

DIALOG ANAK LAUT

Catatan Kecil tentang Puisi Mardi Luhung
Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal dengan Mardi Luhung! Penyair yang kerap dipanggil Hendry ini adalah seorang guru sebuah lembaga pendidikan di Gersik. Selain ia tekun dalam dunia pendidikan, yang tidak kalah lagi adalah ketekunannya dalam dunia kesusastraan. Ia dapat dikatakan sebagai motor kesusastraan di Gersik. Perjuangan sastranya di kota tersebut sungguh luar biasa. Hal itu terbukti dari eksistensinya sebagai gerilyawan sastra. Ia mencoba memasyarakatkan sastra mulai dari lingkungan bawah sampai atas. Dari sekolah sampai jalanan. Continue reading “DIALOG ANAK LAUT”

Bahasa ยป