Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 1 April 2007
Memasuki pameran Ugo, seketika tatapan mata tiba-tiba disergap dan dilemparkan ke padang penuh kebiadaban. Nyata benar di sana, panorama dunia kuda yang tragis; mata bolong, bangkai tersungkur, jejeran kulit terpajang bak mantel atau handuk, potongan kaki berupa sepatu kuda, tato api bertatah kata dislomotkan di kulit, goa bersuara ringkik kuda. Bagi penonton, yang tak akrab menyaksikan kekejian; inilah suguhan ganas tapi komtemplatif yang menyayat kesadaran. Continue reading ““Poem of Blood”: Tragika Kuda ala Ugo Untoro”
