Jawa Pos, 24 Agustus, 2008
Judul Buku: Gus Fadhil Bertutur
Penulis: Zainal Arifin Thoha
Penerbit : Pustaka Insan Madani, Jogjakarta
Cetakan : 1, 2008
Tebal : xii + 291 Halaman
Peresensi: A. Yusrianto Elga Continue reading “Ajaran Kebijaksanaan Gus Zainal”
LENGKUNG YANG RANGKUNG
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Cecilia yang manis.
Mengapa menelungkupi kehidupan – di kala manusia hendak mencenungi peruntungan sendiri? Mengapa menelungkupi gairah dalam kedalaman sunyi, padahal apa yang terngiang dan terbilang sebenar-benarnya merupakan gumpalan yang menebal? Mengapa sibuk memilah-milah kepergian satu misal, sedangkan perumpamaan yang derai-derai tiba menjadi intinya? Mengapa menyesali terpugarnya bangunan tua, padahal kala dirimu menelusuri bangsal-bangsalnya yang putih dan bening, ada yang terasa terkecoh? Continue reading “LENGKUNG YANG RANGKUNG”
Malam Seribu Bulan
Teguh Winarsho AS
Suara Karya, 25 Nov 2006
Sungguh saya menyesal tidak memberi uang recehan pada laki-laki tua yang menengadahkan tangannya sembari menatap saya dengan sorot mata iba ketika mobil yang dikendarai istri saya berhenti di traffic light, sepulang kami dari mengambil uang di Bank. Padahal di dalam mobil ada banyak uang recehan yang memang khusus disediakan istri saya untuk dibagi-bagi pada para pengemis di perempatan jalan. Rasa sesal itu terus menghantui selama perjalanan sampai saya tiba di rumah. Continue reading “Malam Seribu Bulan”
ANTARA SOSOK-SOSOK
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Beberapa pemisalan dapat diambil oleh mereka yang mengumpil kesunyataan ini. Beberapa pemunggahan bisa digoprak oleh mereka yang menginginkan kesentausaan, sedangkan alam mustahil menyampaikan secara utuh. Barangkali, orang kemudian memilih suatu letupan pernyataan yang benar-benar berdentum, katimbang dia mesti menunggu seabad untuk penungguan nan sia-sia. Continue reading “ANTARA SOSOK-SOSOK”
Letupan Hati Seorang Feminis
Hudan Hidayat
Cerpen “tradisional” bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen “modern” apalagi “postmodern”, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu. Continue reading “Letupan Hati Seorang Feminis”
