Judul Buku : 168 Jam dalam Sandera (Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak)
Penulis : Meutya Hafid
Penerbit : Hikmah Bandung
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xviii + 280 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah Continue reading “Risiko Jurnalis Meliput di Zona Merah”
Fakta dan Fiksi dalam Babad Khadiri
Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 11 November 2007
Apakah Babad Khadiri dapat dipandang sebagai laporan ilmiah ataukah sebuah karya sastra? Menurut H.B. Jassin karya sastra musti memiliki gagasan, perasaan, kenangan-pengalaman, kegiatan jiwa, dan proses tertentu. Kendati karya ini secara umum dipandang sebagai laporan sejarah yang, sekali lagi, ganjilnya, berdasarkan laporan dari jin Buta Locaya. Continue reading “Fakta dan Fiksi dalam Babad Khadiri”
LAYANG SELAYANG LAYANG
Memagut aku memagut
Racutan gelanggang mengurai pulut
Mematut aku mematut
Bunga pengimbang lamun bertaut.
Ikhwan yang setiawan.
Banyak bayang-bayang yang sepanjang badan; tapi lebih banyak lagi bayang-bayang yang tak lagi mengindahkan badannya, malahan bersebadan dengan rayuan yang jauh di atas ukuran wujudiah. Cara bagaimana pun untuk mengekalkan carapandang seseorang di tengah dunianya, niscaya akan membikin kecut orang lain, jika kekerasan diucapkan sebagai bahasa inti. Namun demikian, tiada seorang pun ragu akan kekuatan pribadinya, jikalau dia memang punya kekuatan untuk terbang. Siapa dapat menghadang? Continue reading “LAYANG SELAYANG LAYANG”
SORE INI SEPEDAKU MENABRAK DINDING
Mardi Luhung *
Jawa Pos, Maret 2008
sehabis bercinta januari 2008
Sore ini sepedaku menabrak dinding. Tapi tak terguling. Terus menembus dan menggelinding. Menuju ke kedalaman laut. Di kedalaman itu sepedaku terus aku kayuh. Melewati koral, terumbu dan karang. Sekian duyung yang montok melambai. Dan sekian mambang yang melayang. Continue reading “SORE INI SEPEDAKU MENABRAK DINDING”
Pencuri (Bukan) Malaikat
Teguh Winarsho AS
Lampung Post 2005
Asshalatu khairu minna naum…
Allahu akbar, Allhu akbar….
Laa illaha illallah….
SENYAP subuh tiba-tiba pecah oleh gema suara azan. Laki-laki itu, Hasan, hatinya bergetar. Ia harus segera menunaikan kewajibannya. Mengambil air wudu dan salat berjemaah. Tapi, ah, ada sesuatu yang membuat pikirannya resah gelisah. Kedua kakinya enggan melangkah. Tampak di atas, langit subuh meremang bertabur bintang sisa malam pekat yang nyaris pudar. Sementara di udara, kabut tipis mulai bergerak dari arah bukit melulur pepohonan, bergetar pada lampu-lampu neon di pinggir jalan. Continue reading “Pencuri (Bukan) Malaikat”
