LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13)

Kumbayana berdiri. Dikencangkannya ikatan selendang yang melilit di pundaknya agar tak mudah lepas. Dilihatnya putranya masih terlelap. “Anak yang ganteng dan tahu perasaan bapaknya. Baik benar Nak kamu. Tidak rewel. Anteng. Gemes aku. Ayo Nak kita lanjutkan perjalanan. Semoga kita mendapat pertolongan,” kata Bambang Kumbayana kepada anaknya. Tak menoleh ke kanan-kiri, Bambang Kumbayana jalan lurus terus sesuai dengan pesan istrinya. Continue reading “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (13-17)”

SASTRA DIASPOR(-IK/-IS)

Djoko Saryono *

Mari kita “bermain-main” dengan kata diaspora, yang diadopsi dari kosa kata diaspora dalam bahasa Inggris. Kata diaspora sudah menjadi satu satu lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang artinya sudah menjadi salah satu kosa kata bahasa Indonesia. Dalam KKBI, kata diaspora hanya disangkutkan dengan dunia politik, dan dimaknai sebagai “masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pada tahun 1948”. Continue reading “SASTRA DIASPOR(-IK/-IS)”

SAPARDI, FUNDAMENTALIS BUNYI

Mengenang Sapardi Djoko Damono
Binhad Nurrohmat *

Di toko buku loak saya menemukan majalah Horison yang memuat esai Goenawan Mohamad (GM) bertajuk “Nyanyi Sunyi Kedua” yang mengulas puisi Sapardi Djoko Damono. Esai ini yang kali pertama memperkenalkan saya dengan Sapardi. Ketika itu saya masih sekolah di SMA di Sumatra dan seeksemplar majalah Horison bekas harganya 500 rupiah. Continue reading “SAPARDI, FUNDAMENTALIS BUNYI”

Bahasa »