SAPARDI, FUNDAMENTALIS BUNYI

Mengenang Sapardi Djoko Damono
Binhad Nurrohmat *

Di toko buku loak saya menemukan majalah Horison yang memuat esai Goenawan Mohamad (GM) bertajuk “Nyanyi Sunyi Kedua” yang mengulas puisi Sapardi Djoko Damono. Esai ini yang kali pertama memperkenalkan saya dengan Sapardi. Ketika itu saya masih sekolah di SMA di Sumatra dan seeksemplar majalah Horison bekas harganya 500 rupiah.

Di kemudian hari pada awal masa Reformasi, di Jakarta, saya tahu Sapardi dan GM berteman dekat. GM sangat apresiatif terhadap puisi Sapardi, demikian pula sebaliknya. Berbeda dengan Sutardji Calzoum Bachri yang menyentil puisi Sapardi yang menurutnya puisi Jawa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku puisi perdana Sapardi, DukaMu Abadi, membuat saya bertanya pada usia belasan: “Apakah Tuhan bersedih?” — Mu dalam judul bukunya saya kira Tuhan karena huruf m-nya ditulis kapital (M). Secara keseluruhan buku puisi ini tak begitu terang bagi saya semasa SMA. Namun saya suka judul buku puisi ini.

Saya tertarik secara khusus kepada puisi Sapardi yang berjudul “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” yang sangat visual dan menyuguhkan kepekaan atas peristiwa sehari-hari. Puisinya yang sejenis ini membuat saya mengaguminya. Saya sering bosan membaca sajak-sajak cintanya. Apalagi setelah saya mengenal Sapardi secara pribadi dan sempat sekian kali berjumpa. Sapardi lebih sebagai seorang yang humoris ketimbang romantis. Saya sukar membayangkan Sapardi suka pacaran.

BERJALAN KE BARAT DI WAKTU PAGI HARI

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan

Sapardi menulis buku puisi sosial misalnya Arloji dan Ayat-ayat Api yang menurut saya gagal. Puisi Sapardi yang bagus menurut saya yang menyajikan hal-hal “imajis”, yang ketika membacanya seperti menyaksikan sesuatu atau peristiwa, misalnya puisi “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” dan sejenisnya. Puisi sosialnya terasa kikuk dan hambar.

Lebih banyak yang menyukai puisi Sapardi ketimbang yang tidak. Ini fakta. Ini bukan hal yang bisa dicapai sembarang penyair. Apakah ini semata nasib baik Sapardi sebagai penyair? Saya tak percaya.

Sapardi sangat paham dan terampil dalam kaidah-kaidah puisi, dalam kritik dan karya puisinya.

Bagi saya Sapardi adalah “fundamentalis” bunyi dalam puisi. “Puisi adalah bunyi dan permainan bunyi,” katanya. Sapardi tak keliru — meski sebenarnya bunyi bukan satu-satunya faktor atau kaidah pembangun puisi.

Saya sangat kecewa ketika Sapardi menyatakan bahwa “puisi itu tanpa kaidah” di masa akhir hayatnya. Namun saya sangat bahagia membaca sejumlah puisinya yang taat kaidah, sejak dulu hingga saat ini.

Sesaat setelah mendengar kabar kematian Sapardi, saya teringat puisi pendeknya yang berjudul “Tuan”:

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar.
Saya sedang keluar.

Sapardi telah pergi. Dia tak sedang keluar sebentar. Dia berpulang selamanya, kembali kepada Tuannya yang abadi.


Keterangan Gambar: Majalah Sastra Horison, Mei 1968, Tahun Ke III, Nomor 5, foto dari Bandung Mawardi.
***

*) Penyair, tinggal di Pesantren Darul Ulum, Jombang Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *