Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung”

H. Bahrum Rangkuti

Tidak mudah melukiskan secara objektif dan ilmiah judul di atas ini, lebih-lebih karena cerpen Langit Makin Mendung karangan Kipandjikusmin, sangat dihebohkan oleh golongan besar umat Islam. Hamka sendiri sebagai saksi ahli dalam sidang pengadilan atas dimuatkannya cerpen tersebut dalam majalah Sastra, merasa dirinya sangat tersinggung dan menyatakan kepada hakim ketua, ia akan murtad jika ia sebagai Penanggung Jawab majalah Kiblat memuatkannya dalam majalah yang dipimpinnya itu. Continue reading “Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung””

Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia

Martin Suryajaya

Berakhirnya Era Polemik Besar Sastra Indonesia

Dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer, orang sering mempertanyakan di mana sumbangan para kritikus. Sebagian berpendapat bahwa kritik sastra kita tidak lagi melahirkan polemik besar di tataran paradigmatik. Setelah polemik seputar “sastra wangi” dan “sastra digital” pada awal tahun 2000-an, kita tak menjumpai lagi polemik sastra dengan permasalahan yang cukup segar (kecuali permasalahan musiman seperti pembabakan angkatan dan kanon sastra). Continue reading “Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia”

TRADISI SASTRA DI DESA SAYA

Mashuri *

Saya pernah ngebet mencari tahu tentang tradisi bersastra di desa saya, di LA (Lamongan Asolole), alias Lampung (Lamongan Kampung). Dulu, tahun 2000-an awal, saya mulai mencoba mengulik asal-usul kesusastraan dalam lingkup yang sangat spesifik, yaitu desa sendiri. Tentu, saya tidak menukik ke sastra modern, karena itu terlalu wah. Alhasil, yang saya telusuri adalah sastra tradisi, baik berupa tradisi sastra lisan semacam macapatan, maupun tradisi tulis berupa tinggalan manuskrip kuno. Ternyata, hasilnya mencengangkan. Continue reading “TRADISI SASTRA DI DESA SAYA”

Bahasa »