Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan

D.S. Moeljanto

Naskah Manifes Kebudayaan selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada 17 Agustus 1963 pukul 04.00 WIB. Setelah dipelajari, akhirnya dapat diterima oleh Goenawan Mohamad dan Bokor Hutasuhut, sebagai bahan yang akan diajukan ke diskusi pada 23 Agustus 1963 di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta. Kemudian naskah tersebut diperbanyak dan disampai­kan kepada sejumlah seniman untuk dipelajari, jika dianggap perlu diberi catatan-catatan sebagai landasan ideal. Continue reading “Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan”

MASIH SEPUTAR PERKARA MUDIK DAN PULKAM

Maman S. Mahayana *

Kata mudik dan ungkapan pulang kampung, kini jadi polemik. Tiba-tiba bermunculan beberapa akademisi yang mengklaim diri sebagai pakar bahasa. Mereka coba menjelaskan kata dasar dan bentukan baru kata mudik, diikuti dengan keterangan yang dicomot dari kamus yang lalu ditafsirkannya sendiri. Problem besar yang melekat pada keterangan orang-orang yang merasa seolah-olah sebagai pakar bahasa itu adalah rujukannya yang cuma pada satu kamus, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Continue reading “MASIH SEPUTAR PERKARA MUDIK DAN PULKAM”

KRITERIA KEBENARAN PREDIKATIF DALAM TEORI KEBENARAN SEMANTIK MENURUT ALFRED TARSKI

Ahmad Yulden Erwin *

“Salju berwarna putih jika, dan hanya jika, salju berwarna putih.”

Demikianlah silogisme tautologis yang dibuat oleh Alfred Tarski, seorang filsuf logika abad ke-20 dari Polandia, yang dianggap sebagai salah satu filsuf logika terbesar dan telah mengubah wajah logika pada abad ke-20. Pada kalimat di atas, Tarski hendak membuktikan bahwa kebenaran suatu kalimat tergantung pada nilai kebenaran dari kalimat-kalimat atomik (proposisi-proposisi) di mana subjek dari kalimat atomik itu harus merujuk (berkorespondensi) kepada benda X (fakta) di dalam dunia nyata. Continue reading “KRITERIA KEBENARAN PREDIKATIF DALAM TEORI KEBENARAN SEMANTIK MENURUT ALFRED TARSKI”

Belajar Jurnalisme Sastrawi

Nurel Javissyarqi

Dulu,… saya tulis catatan ini, saat aliran Bengawan Solo daerah Lamongan dan Gresik kering kerontang oleh kemarau panjang. Kini, dibaca ulang di Malam Takbiran menyambut Idul Fitri tahun 2020, dan paragraf ini pembuka, penambahannya. Adalah jarak waktu, ingatan, kenangan benar tersimpan, tatkala disalin ke dalam teks, meski lewati batas kadaluarsa dari peristiwa yang sudah tersirat takdir-Nya. Rentangan tempo dari kemarau hingga penghujan yang tidak pada musimnya, antara sekarang dan tulisan lama, menelan masa setengah tahunan. Alhamdulillah, masih diberi-Nya napas-napas demi menghidupi kesaksian kepada para pembaca. Continue reading “Belajar Jurnalisme Sastrawi”

Bahasa »