CERITA HANTU SALIMIN

Taufiq Wr. Hidayat *

“Sahdan buah jeruk yang manis, dalam kisah Akutagawa, dilemparkan seorang gadis asing dari dalam kereta melalui jendela,” kata Saliman malam itu di rumah saya.

Saya tidak menyangka, Saliman membaca Akutagawa. Orang bersembunyi di dalam rumah, keranda mayat dibawa keliling kota oleh petugas kesehatan pada siang hari, mencari orang yang mati kena virus, untuk dikuburkan secara benar sesuai prosedur medis agar virus dalam tubuh mayat tidak menular sama orang hidup. Malam. Di luar banyak virus tak terlihat, seperti hantu ketika kecil. Setelah dewasa, ternyata hantu-hantu itu tidak pernah ada, ujar Salimin. Continue reading “CERITA HANTU SALIMIN”

Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi

Esrom Aritonang

Bagi penggemar dan pengamat karya sastra di Indonesia, khususnya bidang puisi, nama F. Rahardi bukan nama asing lagi. Penyair ini dikenal luas pertama kali melalui “Soempah WTS” (1983). Kemudian buku kumpulan puisi kedua menyusul berjudul “Catatan Harian Sang Koruptor” (1985). Pada saat kelahiran buku kumpulan puisi kedua inilah F. Rahardi menyatakan “Proklamasi Puisinya”. Continue reading “Kritik Sosial dalam Sajak F. Rahardi”

Para Penumpang Gelap

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 12 Jan 2014

SEBUTAN “penumpang gelap” sudah tidak lagi hanya milik dunia transportasi, tapi sudah menjadi “milik” banyak dunia. Dunia, yang dalam konteks sebuah ruang sosial—yang oleh teori Bourdieu—kerap disebut field (arena). Arena, tempat berbagai dialektika proses relasi sosial terjadi, yang terstruktur, untuk kemudian membentuk apa yang disebut habitus. Dunia politik, dunia ekonomi, dunia seni, dunia sastra, dunia puisi, tentu termasuk di dalamnya. Maka, sebutan “penumpang gelap” pun bisa cocok dipakai sebagai frasa simbolik yang mencerminkan salah satu gejala dialektika sosial yang terjadi. Continue reading “Para Penumpang Gelap”

Bahasa »