Elegi
Kesedihan melanda kota-kota
dan kita terpisah jauh.
Kegelapan menyelimuti hari
dan kita menjemput keresahan.
Pelangi seakan pecah jadi debu.
Tangis cuaca menggema. Continue reading “Puisi-Puisi Anugrah Gio Pratama”
Elegi
Kesedihan melanda kota-kota
dan kita terpisah jauh.
Kegelapan menyelimuti hari
dan kita menjemput keresahan.
Pelangi seakan pecah jadi debu.
Tangis cuaca menggema. Continue reading “Puisi-Puisi Anugrah Gio Pratama”
SUNYI MALAM
Sunyi senyap selantunan diri sendiri
sejuk dalam dekapan malam-wengi
hening di putaran nada-nada hayati.
Tanpa bising hiruk pikuk suara lain,
sunyi sepi lahirkan kupu-kupu cahaya
teman pun keluarga telah lelap semua. Continue reading “Puisi-Puisi Nurul Komariyah”
Marhalim Zaini *
APRIL, agaknya bolehlah kita sebut sebagai bulan literasi. Setidaknya, empat momentum ini menandainya: Gabriel García Márquez wafat (17 April), Hari Kartini (21 April), Hari Buku Sedunia (23 April), dan Hari Chairil Anwar (28 April). Sederet peristiwa itu, adalah penanda, ihwal detak jantung dunia literasi kita. Dunia keberaksaraan kita. Keberaksaraan, yang tak semata bicara soal dunia cetak (print literacy) yang ditengarai sebagai penanda dunia modern, akan tetapi juga soal aksara sebagai—apa yang disebut Sweeney —stylized form. Dan, “bentuk yang istimewa” itu, adalah puisi, adalah sastra. Maka, bicara dunia keberaksaraan (literacy), tak bisa lepas dari dunia sastra. Continue reading “Marquez, Kartini, Buku, Chairil”
Matroni Muserang *
Ada banyak definisi tentang cinta, walau pun pada akhirnya cinta itu sendiri tidak memiliki cinta. Karena cinta tidak membutuhkan arti dan ucapan, sebab kalau cinta diartikan dan di ucapkan, maka cinta akan hilang menjadi cinta, akan tetapi yang ada adalah arti dari sebuah cinta, dan ucapan dari sebuah cinta. Continue reading “Cinta, Kita dan Sastra”