
Fatah Anshori * Continue reading “Membaca The Seven Good Years, Etgar Keret”
Puisi yang Berimaji dan Esai yang Menjelaskan
Dhoni Zustiyantoro *
Kepadatan bahasa puisi mengajak pembaca masuk ke wilayah multitafsir. Kaidah licentia poetica menengahkan puisi bisa memiliki bahasa tak lazim, mengalihkan dari apa yang maksud pengarang, dengan gejala semiotis yang berserak dan ingin ditafsirkan pembaca. Continue reading “Puisi yang Berimaji dan Esai yang Menjelaskan”
Ke Arah Seni Berisi: Sekitar Soal “Tendens”
Boejoeng Saleh
I
Masalah tendens sebagai suatu segi persoalan nisbah seniman terhadap masyarakat atau dengan kata-kata lain fungsi seniman di dalam masyarakat setelah Perang Dunia kedua hingga kini mendapat kehangatannya kembali karena berbagai penyiaran-penyiaran baru, sekalipun masalah itu telah menjadi tema diskusi-diskusi kesenian dan keilmuan sejak lebih daripada seabad yang lampau. Di dalam polemik H.B. Jassin lawan Klara Akustia hampir dua tahun yang lampau dan polemik Aoh Kartahadimadja lawan Bakri Siregar kemudiannya soal itu telah disenggol-senggol sedikit, sekalipun belum bertegas-tegas. Continue reading “Ke Arah Seni Berisi: Sekitar Soal “Tendens””
Setelah “Sesuatu Indonesia” Tentang Sastra Kita di Masa Depan
Muhammad Al-Fayyadl
Tiap ditanya soal masa depan sastra Indonesia, saya selalu ragu menjawabnya. Pertama, saya kira tak seorang pun dapat meramalkan masa depan. Pengertian masa depan begitu cair dan penuh kontradiksi. Yang kita anggap masa depan lebih merupakan bayangan, imajinasi, atau keinginan kita tentangnya. Kedua, pasti memusingkan bila bicara tentang masa depan narasi sejarah bernama “sastra Indonesia”. Continue reading “Setelah “Sesuatu Indonesia” Tentang Sastra Kita di Masa Depan”
NERAKA DI BALIK JENDELA SURGA

(Halaman Rumah Izzat Ramsi, Foto Cimenk Ilalang)
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “NERAKA DI BALIK JENDELA SURGA”
