Tempo, 9 Feb 2014
Sjahrir, di Sebuah Sel
—untuk Rudolf Mrazek
Dari jendela selnya,
(kita bayangkan ini Jakarta,
Februari 1965, dan ruang itu lembap,
dan jendela itu rabun),
ia merasa siluet pohon
mengubah diri jadi Des,
anak yang berjalan dari selat
memungut cangkang nyiur,
dan melemparkannya
ke ujung pulau. Continue reading “Puisi Goenawan Mohamad”
