MELIHAT DUNIA DENGAN CARA BERBEDA

Ahmad Yulden Erwin

Selepas pertengkaran dan kepergian Paul Gauguin, sahabat sekaligus “guru” yang dikagumi oleh Vincent van Gogh, dari “rumah kuning”–rumah yang dimaksudkan Vincent sebagai rumah bagi komunitas para pelukis masa itu–pelukis Belanda yang seumur hidupnya hanya mampu menjual satu lukisannya itu mulai dianggap gila oleh masyarakat di Kota Arles. Continue reading “MELIHAT DUNIA DENGAN CARA BERBEDA”

KISAH KESEPIAN LABUDAH

Taufiq Wr. Hidayat

Labudah tak pernah membaca “Orang-orang Bloomington” Budi Darma. Orang lain memperkenalkan sosok Labudah dari pikiran-pikiran kotornya, sikap yang menampakkan diri dermawan padahal pelit, licik, cabul, punya watak sadis yang terpendam. Sejumlah watak kotor Labudah itu, diceritakan orang lain dalam cerita ini. Orang lain itu bernama Zabalkat. Continue reading “KISAH KESEPIAN LABUDAH”

CLAIRE

Muhammad Antakusuma

Claire sedang membaca “A Prayer” ketika aku permisi un­tuk duduk di sebelahnya. Kemudian kubuka lembaran In­ternational Herald Tribune. Tidak ada berita yang menarik. Justru kolom biro jodoh yang menggaet hatiku. Kami sudah mengencangkan ikat pinggang, siap terbang dari Du­bai menuju Amsterdam. Kelas ekonomi Emirates A380. Claire baru saja menyelesaikan proyek di India, dan aku akan melakukan proyek penulisan cerpen di Belanda. Dia mengaku belum pernah ke Indonesia. Sedangkan aku mengaku belum pernah ke Prancis, daerah asalnya. Continue reading “CLAIRE”

Politik Sekarat, Sastra Menggugat!

Raden Eding Purwadi *
RadarMaduraJP 10/11/2019

”Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.”

SEPENGGAL kalimat bernuansa sastra yang pernah terlontar dari mulut John F. Kennedy. Kalimat tersebut terdengar agak mainstream dan terkesan seperti prosa yang lebih menampakkan sisi leksikalnya. Namun, substansi fundamental yang terkandung, setidaknya mampu menghantarkan kita untuk membayangkan; bagaimana sebenarnya realitas keterkaitan antara politik dan sastra? Continue reading “Politik Sekarat, Sastra Menggugat!”

Sastra (Berbahasa) Jawa

Bandung Mawardi *
jawapos.com/5/1/2020

PADA akhir 2019, acara-acara di pelbagai kota tak cuma pesta, konser musik, pelesiran, dan makan enak. Di Surabaya, 27 Desember 2019, acara bercap sastra (berbahasa) Jawa diselenggarakan bersahaja. Festival Sastra Jawa itu memang tak bermaksud memberi kejutan di tutupan tahun atau memberi tanda seru atas nasib kesusastraan berbahasa Jawa di abad XXI. Kesan sepi masih terasa. Sejak puluhan tahun lalu, umat sastra (berbahasa) Jawa memang sedikit. Sastra itu masih hidup dengan kewajaran-kewajaran meski godaan puja digital melanda. Continue reading “Sastra (Berbahasa) Jawa”

Bahasa »