Menelusuri Arus Utama Sastra Indonesia

Yusri Fajar *
jawapos.com 29/12/2019

DOMINASI karya sastra dalam dinamika sejarah dan perkembangan sastra Indonesia sering kali dipengaruhi kepentingan kekuasaan, kapitalisme, dan agama. Fenomena itu tergambar dalam buku bertajuk Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan karya Okky Madasari yang bisa diunduh secara gratis melalui www.okkymadasari.net. Continue reading “Menelusuri Arus Utama Sastra Indonesia”

Peta Perkembangan Komunitas Sastra di Lamongan dan Sekitarnya *

Alang Khoiruddin **

Pembicaraan terkait dengan peta perkembangan komunitas sastra Indonesia di Jawa Timur sebenarnya telah lama dilakukan dan diupayakan oleh para pemerhati, terutama oleh para peneliti Balai Bahasa Jawa Timur. Dari hasil pembicaraan dan sejumlah penelitian tersebut barangkali dapat disimpulkan bahwa perkembangan sastra di suatu daerah memang tidak dapat dilepaskan dari peran komunitas sastra yang ada di masing-masing daerah. Tak terkecuali di Lamongan. Continue reading “Peta Perkembangan Komunitas Sastra di Lamongan dan Sekitarnya *”

Hormati Arwah Orang Mati, Mengapa?

Yohanes Sehandi *
Flores Pos, 16 Jan 2020

Salah satu tradisi sakral turun-temurun dari nenek moyang yang kita warisi dengan baik sampai dengan saat ini adalah tradisi menghormati arwah orang mati atau roh para leluhur. Tradisi ini cukup menonjol dalam ritus-ritus agama tradisional (biasa disebut agama asli, agama lokal, atau aliran kepercayaan). Bahkan salah satu pusat kepercayaan agama tradisional adalah kekuatan arwah orang mati yang diyakini masih hidup dalam bentuk lain di “dunia seberang.” Tradisi dan kepercayaan seperti ini masih dipraktikkan di berbagai etnis dan suku bangsa di dunia, terutama di Asia, Afrika, Amerika Latin, Melanesia, dan Australia (suku Aborigin). Di Indonesia, termasuk di Flores, tradisi dan kepercayaan kepada arwah orang mati ini masih dipegang teguh sampai kini. Continue reading “Hormati Arwah Orang Mati, Mengapa?”

BACAAN ANAK DAN KENANGAN

Anindita S. Thayf
Jawa Pos, 12/01/2020

Sewaktu berada di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi, saya disajikan secuplik adegan ini. Seorang bocah merengek meminta ibunya mengganti saluran televisi umum karena tidak menyukai apa yang dilihatnya di layar. Alasannya, “[tokoh] bonekanya jelek. Mulutnya tidak bergerak.” Sang ibu menolak sambil beralasan bahwa boneka yang menjadi ikon acara itu bagus karena, “waktu kecil, Bunda menonton [boneka] itu juga.” Pada akhirnya, seisi ruang tunggu dokter gigi siang itu tetap dihibur oleh acara Laptop Si Unyil. Acara yang ditonton si ibu dengan kepala yang dipenuhi kenangan. Continue reading “BACAAN ANAK DAN KENANGAN”

Bahasa »