AIR HIDUP BANYUWANGI

Taufiq Wr. Hidayat *

Di samping beberapa situs budaya dan sejarah Banyuwangi, tidak boleh dilupakan aset utama kebudayaan kita, yakni para penjaga, pelaku budaya beserta para pendukung dan penganut kebudayaan itu sendiri. Ini penting kalau kita hendak mengembangkan kebudayaan Banyuwangi yang tak belaka festival tanpa makna, atau sekadar “politik identitas” Using yang kerap jadi alat praktis “orang pusat”. Continue reading “AIR HIDUP BANYUWANGI”

Sastra Tuban : Membaca Sejarah Kesadaran Kehidupan

Catatan Kurator Pameran Sastra “Dua Empat Jam” Komunitas Langit Tuban
Cak Sariban *
bloktuban.com

Gerak pelokalan atas bergesernya kemampuan sentralistik mendorong kekuatan proses kreatif pengarang-pengarng yang tinggal di daerah juga menggeliat. Kesadaran bahwa sentralistik sastra nasional tumbuh kembang dari sastra lokal kedaerahan menjadi kesadaran kolektif dengan pertanda keberanian organisasi-organisasi kebudayaan pinggir secara tempat menunjukkan perannnya sebagai pelaku kebudayaan di daerahnya. Fakta ini memberi kesanggupan energi kreatif, penerbitan, sikap berani berbicara melalui karya sastra, serta kesanggupan kritik untuk kemudian terbaca di publik-publik yang pada masa sebelum tahun dua ribuan terasa niscaya dalam wilayah prifaci publik selevel daerah kabupaten. Continue reading “Sastra Tuban : Membaca Sejarah Kesadaran Kehidupan”

Budi Darma : Penulis Muda Harus Lebih Agresif!

Akhlis Purnomo

BUDI DARMA memiliki pesan besar bagi para penulis masa kini seperti Anda semua:Jadilah lebih agresif! Malam itu di panggung seremoni penutupan Asean Literary Festival 2016 lalu, pria asal Rembang yang kini berdomisili di Surabaya ini berwejangan pada kami para hadirin bahwa penulis muda jangan sampai mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama dengannya. Continue reading “Budi Darma : Penulis Muda Harus Lebih Agresif!”

DELIMA SEPARUH

Naskah Teater karya : Rakai Lukman *

SINOPSIS

Sulaiman yang telah memakan separuh buah delima yang ditemukannya di bantaran sungai. Kemudian sulaiman sadar, ia telah memakan buah belum halal, lalu ia cari pemiliknya. Ternyata seorang kiai, yang mana kiai ini memberi syarat kehalalan delima dengan menggembalakan kambingnya tiga tahun tanpa upah, berziarah wali songo dengan jalan kaki, dan sarat yang terakhir harus mempersunting putri sang kiai, yang buta, tuli, bisu dan pincang. Continue reading “DELIMA SEPARUH”

Nglaras Nasionalisme Sukarno

Dr. H. Sutejo, M.Hum. *

Selalu, setiap kali datang bulan Agustus kita merayakan kemerdekaan dengan berbagai rupa. Yang paling banyak, merayakannya dengan “eforia yang tanpa makna” –untuk tidak menyebutnya bukan hakikatnya–, yakni berupa permainan-permainan dan perayaan yang lebih mengarah pada “hiburan”. Bukan mementingkan urgen substansinya, ngelaras pesan para founding father. Continue reading “Nglaras Nasionalisme Sukarno”

Bahasa »