Sastra dan Negara: Pengalaman Tasikmalaya

Acep Zamzam Noor *
Makalah KIK HISKI XX 2009, Bandung, 5-7 Agu 2009

LAHIRNYA Indonesia sebagai bangsa tak bisa dilepaskan dari karya sastra, khususnya puisi. Pada tanggal 28 Oktober 1928 sejumlah anak muda yang mempunyai naluri kepenyairan berkumpul dan secara kolektif berimajinasi tentang sebuah bangsa. Secara kolektif pula mereka menulis sebuah puisi yang indah, yang sekarang kita kenal sebagai “Sumpah Pemuda”. Sebuah puisi yang mengimajinasikan sesuatu yang waktu itu belum ada, bahkan mungkin belum terbayangkan di pikiran banyak orang: bangsa, tanah air dan bahasa. Continue reading “Sastra dan Negara: Pengalaman Tasikmalaya”

Rudapaksa

Asep Rahmat Hidayat *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Kata rudapaksa semakin sering digunakan dalam berita. Ketika kata itu diketikkan pada peramban Google muncul 665 ribu tautan dalam waktu 0.32 detik saja. Umumnya tautan berisi berita tentang pemerkosaan. Ketika kata itu ditambahkan dengan kata trauma, peramban memunculkan 120 ribu tautan dalam waktu yang sama terkait ranah Hal itu menunjukkan umumnya kata rudapaksa digunakan dalam konteks pemerkosaan. Oleh karena itu, ada pengguna bahasa yang mempertanyakan penggunaan kata rudapaksa yang menurutnya merupakan bentuk eufemisme dari kata perkosa atau pemerkosaan. Continue reading “Rudapaksa”

Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Ada perbedaan tertentu antara bahasa di dalam sajak dan bahasa di luar sajak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa pada umumnya adalah alat untuk mengomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang berlangsung di dalam jiwa manusia. Sementara itu, yang membedakan bahasa di dalam sajak dengan bahasa di luar sajak adalah adanya kenyataan lain yang tersembunyi di balik bahasa sajak yang berupa tujuan awal penyair, ungkapan hati, perasaan, daya khayal, dan wilayah kenyataan baru yang sedang dijelajahi penyair. Continue reading “Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas”

Malaikat Pencabut Nyawa

Eko Darmoko
Kompas, 17 Jan 2021

Hanya pelacur yang bisa menyelamatkan nyawa Bella. Ilmu kedokteran belum sanggup menangkal kewajiban malaikat pencabut nyawa yang diperintahkan untuk menumpas hidup Bella. Apa daya, minimnya pengetahuan dan pergaulan, membuat keluarga Bella kepayahan mencari pelacur semenjak Dolly ditutup Pemerintah Kota. Continue reading “Malaikat Pencabut Nyawa”

Bahasa »