Mendadak jadi Moderator

Sabrank Suparno

Mendadak jadi moderator dalam diskusi buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” Karya Nurel Javissyarqi pada hari Selasa 30 Januari 2018 di Kedai Boenga Ketjil miliknya Cak Andhi Setyo Wibowo. Kalau saya mondar-mandir dalam diskusi itu, bukan meniru Karni Ilyas pada acara ILC, sebab ILC baru berdiri beberapa tahun lalu saja, dibanding saya memoderatori di berbagai acara. Jika saya tiba-tiba mendebat pembicara, meminta ketegasan ulang, menghentikan pendapat, mengulas, dll, juga bukan meniru Rosiana Silalahi yang endel produktif itu. Itu semata hanya teori menghidupkan ruang diskusi. Continue reading “Mendadak jadi Moderator”

Sakral dan Profan

Komaruddin Hidayat *
Sindo, 18 Agu 2017

KEDUA istilah di atas, sakral dan profan, lazim dijumpai dalam berbagai kajian ilmu sosial, filsafat, dan agama. Secara populer sakral artinya suci, disucikan, atau dianggap suci, sedangkan profan bermakna sebaliknya. Contoh paling sederhana, ada dua buku tebal, yang satu kitab suci, satunya lagi buku akademis.

Buku pertama dianggap sakral, yang lain profan. Tentu saja sakralitas sebuah entitas berkaitan dengan kepercayaan dan iman seseorang. Kitab Injil dan Alquran bagi pemeluk Nasrani dan Islam diyakini sakral sehingga disebut kitab suci, tetapi bagi orang ateis dianggap profan. Continue reading “Sakral dan Profan”

Dua Hari Dua Sastra

Zainuddin Sugendal
Radar Jombang, 16 Okt 2016.

Sebelum hujan sering mengguyur kota Jombang, sekitar duapuluh empat hari yang lalu, dua pertemuan sastra digelar di kota ini. Gejalanya terus merambat dan terus merambat. Naskah kumpulan puisi Mazmur dari Timur: Sehimpun Puisi Epik karya Aditya Ardi N dibahas di warung Boenga Ketjil daerah Parimono dan besok paginya, Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati karya Sujiwo Tejo diseminarkan di auditorium kampus UNIPDU. Keduanya mengiringi bulan-bulan hujan yang dingin di Jombang. Continue reading “Dua Hari Dua Sastra”

Borges dan Cerita yang Meragukan

A.S. Laksana
Jawa Pos, 26 Jun 2016

ADA banyak penulis bagus di muka bumi, tapi bagi saya Jorge Luis Borges (1899–1986), penulis Argentina, adalah yang paling menjengkelkan.

Kita sudah sering mendengar atau membaca tuturan orang mengenai fiksi dan realitas. ”Masalah mendasar pada fiksi adalah ia harus bisa dipercaya. Realitas boleh saja tidak masuk akal,” kata Tom Wolfe, penulis dan wartawan sekaligus salah seorang pelopor New Journalism. Satu Tom lagi, yakni Tom Clancy, menyatakan hal yang kurang lebih sama. Continue reading “Borges dan Cerita yang Meragukan”

Bahasa »