Denny JA dengan Puisi Esai yang Menghina Islam

Budi Hutasuhut *
facebook.com/budiphatees

SEJAK polemik soal proyek buku puisi esai Denny JA berlangsung di jejaring media sosial, dimana saya pernah menulis status yang intinya mempertanyakan isi kepala sastrawan Sumatra Utara yang memposisikan diri sebagai “anjing penjaga atas gagasan Denny JA”, saya menerima ajakan pertemanan dari sebanyak 500 orang di Facebook. Mereka berasal dari seluruh Indonesia, dan saya mengenali sebagian dari mereka sebagai intelektual sastra (saya pakai istilah ini untuk menyebut orang yang punya minat khusus terhadap sastra), sebagian lannya adalah orang-orang yang tertarik tentang sastra. Continue reading “Denny JA dengan Puisi Esai yang Menghina Islam”

Mencari Ilmu Hitam dalam Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 2 Jan 2018

SEPERTINYA sulit sekali menemukan cerita ilmu hitam dalam karya para sastrawan NTT, padahal cerita ilmu hitam banyak sekali dalam masyarakat kita, diwariskan dengan cara bisik-bisik dari mulut ke mulut. Ceritanya bisa merinding bulu kuduk. Sejumlah istilah berkaitan dengan ilmu hitam, antara lain santet, leu-leu, rasung, suanggi, dukun, potiwolo, dan lain-lain. Continue reading “Mencari Ilmu Hitam dalam Sastra NTT”

PENGARANG GUREM, PAJAK, DAN HONOR

Anindita S Thayf
Harian Fajar, 18/12/2017

Putu Wijaya pernah mengatakan proses mengarang seperti “peristiwa melahirkan bayi, meregang nyawa, menahan sembilu yang menghujam tubuh.” Tentu setiap pengarang mempunyai pengalaman sendiri-sendiri ketika mengarang. Proses mengarang bisa berbeda, namun hilirnya sama, yaitu sebuah tulisan baik dalam berupa cerpen, novel atau puisi. Tulisan inilah yang merupakan sumber penghasilan seorang pengarang. Continue reading “PENGARANG GUREM, PAJAK, DAN HONOR”

Di Hadapan Bacaan

Agus R. Sarjono
Majalah Horison Tahun XXXIII, No.7/Juli 1999

Ketika seorang pembaca berhadapan dengan bacaan tak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi. Nietzsche sastrawan atau filsuf (untuknya kedua hal ini bisa saling dipertukarkan) mengumumkan bukunya Also Sprach Zarathustra. Buku ini menggegerkan banyak kalangan di antaranya karena ada ungkapan “Tuhan sudah mati”.

Untunglah dunia tidak terdiri dari para penakut dan tukang melarang. Buku itu bebas beredar dan banyak orang tidak takut membacanya. Dari banyak pembaca itu kita mengenal nama Muhammad Iqbal. Pemikiran Nietzsche ternyata berpengaruh besar pada Mohammad Iqbal. Hasilnya, Muhammad Iqbal menulis sebuah buku yang cemerlang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Continue reading “Di Hadapan Bacaan”

Posisi Kesenian Modern Indonesia

Gunoto Saparie
Pikiran Rakyat, 27 Jul 1995

Setelah merdeka selama 50 tahun, di manakah posisi kesenian modern Indonesia? Para seniman Indonesia modern agaknya harus mengakui, bahwa posisi kesenian modern kita tetap bagaikan berada di menara gading. Seni modern kita adalah seni minoritas, elite, yang terasing dari masyarakat. Kesenian kita, seperti pernah dikatakan Emha Ainun Nadjib, adalah gerak yang meyakini sikap tanpa pamrih. Artinya, berkesinan tanpa tujuan apa-apa, kecuali untuk kebahagian individual. Tujuan kulturasi dianggap sebagai pretensi moral yang muluk. Kesenian kita adalah satu bidang kehidupan yang menelan bermiliar rupiah tetapi dengan ekslusivisme nilai-nilai. Continue reading “Posisi Kesenian Modern Indonesia”

Bahasa »