Pusat Dokumentasi Sastra (Indonesia) Yogyakarta: “Why Not…?”

Herry Mardianto *
Kompas, 10 Mei 2005

Bukanlah hal berlebihan jika hampir sepuluh tahun silam Dorethea Rosa Herliany, penyair wanita kelahiran Magelang, mengemukakan pendapat bahwa untuk melihat sastra Indonesia modern secara strategis dapat dilakukan dengan mengamati perkembangan kesusastraan di Yogyakarta. Alasannya karena pertumbuhan kesastraan di Yogyakarta memiliki dinamika yang tidak kehabisan sisi menariknya–berbagai peristiwa dapat menjadi “intuisi” untuk iklim pertumbuhan kesenian, sastra Yogya tidak mengalami stagnasi; di samping banyaknya penerbitan karya sastra dalam bentuk buku sebagai kontribusi pengembangan peta kesusastraan Indonesia modern. Continue reading “Pusat Dokumentasi Sastra (Indonesia) Yogyakarta: “Why Not…?””

Hari Sastra Nasional Dilihat Secara Sosiologis

Jakob Sumardjo
Pikiran Rakyat, 6 Jan 2001

Kesusastraan adalah masalah nilai, yaitu nilai estetika. Dan apa yang disebut “sastra” itu berbeda-beda untuk tiap orang, tiap kelompok dan tiap masyarakat. Karya sastra yang dibaca oleh seorang mahasiswa Fakultas Sastra, berbeda dengan sastra yang dibaca oleh seorang penjaga kios rokok. Kalau penjaga kios itu disodori bacaan mahasiswa, kemungkinan besar dia akan mengatakan, bahwa itu bukan bacaannya. Continue reading “Hari Sastra Nasional Dilihat Secara Sosiologis”

Para Penulis di Balik Bongkahan Koral

A.S. Laksana *
Jawa Pos 6/04/2015

TANPA memperhitungkan faktor kemalasan diri sendiri, pada suatu siang, tiba-tiba terlintas dalam benak bahwa tampaknya lebih baik saya menjadi penulis kritik sastra saja. Saya pikir, ini urusan yang besar manfaatnya. Kita tidak lagi memiliki orang seperti H.B. Jassin dan A. Teeuw yang tekun mengikuti perkembangan kesastraan dan rajin menyampaikan pemikiran mereka tentang karya-karya para penulis. Continue reading “Para Penulis di Balik Bongkahan Koral”

Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam

Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 25 Jan 2oo8

Bahasa adalah hantu untuk memberi ancaman hidup dan mati atas kelahiran puisi. Afrizal terus mengurusi bahasa sebagai dalil dan risiko. Eksplorasi dan eksplanasi tentang bahasa bertebaran dalam tubuh puisi.. Afrizal dalam puisi-puisi lama tampak mengimani dan mengamini bahasa melawan rezim. Puisi-puisi lama Afrizal kerap mengandung “dendam di setiap akhir kalimat”. Dendam itu perlahan menyusut dalam puisi-puisi mutakhir. Continue reading “Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam”

Bahasa »