MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS

A.S. Laksana *

Cerpen “Hills Like White Elephants” terbit pertama kali tahun 1927 dan membingungkan orang-orang pada saat itu. Ia seperti ditulis tanpa plot, dengan narator yang fungsinya sangat minimum, tanpa berupaya memberi sedikit pun penjelasan tentang latar belakang si lelaki dan si gadis, atau seperti apa pakaian mereka, atau bagaimana intonasi mereka saat bicara, atau dengan bahasa tubuh seperti apa mereka menyampaikan kata-kata, dan sebagainya. Si lelaki hanya diperkenalkan sebagai “seorang lelaki Amerika” dan si gadis disebut begitu saja sebagai “seorang gadis”. Namun dari koper-koper mereka, yang masih dilekati label hotel-hotel tempat mereka pernah menginap, kita tahu bahwa mereka dua orang pendatang. Dan, tanpa penjelasan narator, kita juga tahu bahwa si gadis tidak memahami bahasa setempat. Continue reading “MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS”

mBongkar Yogya, Membongkar Ironi Budaya

Wahjudi Djaja *
Kedaulatan Rakyat, 7 Agu 2016

Yogyakarta merupakan entitas budaya yang melegenda. Pengaruhnya melintasi batas-batas geografis. Keberadaannya senantiasa diperbincangkan beragam kalangan dalam skala yang luas dari waktu ke waktu. Energi kreatifnya seolah tiada pernah hilang dari lembaran sejarah, selalu menginspirasi orang dari generasi ke generasi hingga melahirkan karya yang fenomenal dan monumental. Sebagai ruh, Yogyakarta tak pernah runtuh. Ia masuk dan menjelma dalam diri siapa saja terutama yang mengedepankan rasa, baik yang kesejarahan maupun kenangan. Peran kota ini bisa dilihat dari predikat yang melekat, mulai kota budaya sampai kota wisata, dari kota perjuangan sampai kota pendidikan. Continue reading “mBongkar Yogya, Membongkar Ironi Budaya”

Penulis Karya Sastra: Miskin

Alunk S Tohank (Nurul Anam) *
Minggu Pagi, Des 2016

Jangan buang waktu menulis buku! Andaikan bertubuh tinggi dan kekar, lagi pula rupawan lebih baik jadi pemain drama! (Bjornstjerne Bjornson).

Pernyataan Bjornson di atas bukan tanpa alasan, karya sastra dan seni tidak bisa membuat kita kenyang dan tidak cukup untuk membuat kita kaya raya. Karya sastra dan seni seakan-akan hanya ditakdirkan kepada orang-orang yang sabar akan berbagai macam cobaan dan penderitaan, maka tidak salah jika membaca buku-buku sastra yang paling menggugah adalah karya-karya yang isinya menceritakan berbagai maca penderitaan. Continue reading “Penulis Karya Sastra: Miskin”

Bahasa »