Cerpen dan Joni Ariadinata

: Catatan Perjalan
Endry Sulistyo

Sebuah karya sastra tentu tidak dapat dilepaskan dari pengarangnya. Sebelum karya itu sampai kepada pembaca, terlebih dahulu melewati suatu proses panjang. Proses yang seringkali tidak diketahui oleh pembaca awam dan sering pula dianggap sepele oleh para penelaah sastra, mulai dari munculnya dorongan pertama untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapan, sampai akhirnya tercipta sebuah karya yang siap untuk dibaca oleh publik. Continue reading “Cerpen dan Joni Ariadinata”

Mawar Tak Berduri Bidan Flores (Novel Maria Matildis Banda)

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 17 Okt 2017

“Jangan takut ibu, kita harus bertahan! Karena ketakutan meningkatkan penindasan.” Kutipan ini adalah baris puisi penyair WS Rendra yang berjudul “Jangan Takut Ibu” untuk menguatkan hati kaum ibu yang berjuang melawan penindasan.

Dua baris puisi WS Rendra di atas dikutip dalam novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga karya novelis Maria Matildis Banda, biasa disapa Mery Banda. Novel ini diterbitkan Penerbit Kanisius Yogyakarta (2015) tebal 568 halaman. Novelis ini suka memberi judul novel berkaitan dengan bunga. Sebelumnya sudah terbit novel Liontin Sakura Patah, Bugenvil di Tengah Karang, dan Pada Taman Bahagia. Continue reading “Mawar Tak Berduri Bidan Flores (Novel Maria Matildis Banda)”

MENGGAGAS KESADARAN LOKALITAS SASTRA MANADO

(Peluncuran Antologi Puisi Bahasa Manado)
Greenhill Glanvon Weol *
Global News, 22-23 Mar 2005

Sebuah antologi puisi bahasa Manado dengan judul “999” baru saja menyapa publik penikmat sastra di Manado. Peluncuran buku ini memang jauh dari darimewah dan “wah”, sebab cuma dilaksanakan di kantin kecil yang kebetulan bertempat di fakultas Sastra UNSRAT. Acaranya sederhana dan jauh dari kesan formal : ucapan selamat datang dari yang empunya kantin, kemudian langsung karya tersebut diperkenalkan lewat serangkaian tanya jawab yang lazimnya disebut “bedah buku” sambil ngopi. Continue reading “MENGGAGAS KESADARAN LOKALITAS SASTRA MANADO”

Teror dan Polusi Pikiran

A.S. Laksana
Jawa Pos, 19 Mar 2017

“LIFE is very short and there’s no time for fussing and fighting, my friend.” – The Beatles.

Saya memutar berulang-ulang lagu dari kelompok musik Inggris tersebut beberapa hari belakangan, mungkin karena dirasuki perasaan sentimentil berada di tengah keributan dan pertengkaran yang sepertinya tak sudah-sudah. Setiap hari ada berita buruk, dan jumlahnya banyak. Itu adalah polusi bagi pikiran. Continue reading “Teror dan Polusi Pikiran”

Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky

Ilham Q. Moehiddin *
tabloidsastra.wordpress.com

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid; You say that you love me too. (I Am Afraid, William Shakespeare). Continue reading “Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky”

Bahasa »