HAMKA, WS. Rendra, Puisi Sukmawati: Drama ‘Patine Gustiallah’

Muhammad Subarkah
Republika, 06 Apr 2018

Apa sih definisi puisi bermutu itu? Ketika pertanyaan ditanyakan kepada sastrawan dan Guru Besar Filsafat Universitas Paramadina, Prof Abdul Hadi WM, dia hanya menjawab pendek. Katanya, “Puisi yang baik memiliki nilai estetis. Nilai inilah yang membuat sebuah puisi berharga. Dalam nilai estetis itu sudah terangkum nilai-nilai lain. Jadi bukan karena bikin heboh,’” ujarnya. Continue reading “HAMKA, WS. Rendra, Puisi Sukmawati: Drama ‘Patine Gustiallah’”

Penyair Tua dan Tali Sepatunya

Muhammad Yasir

Seribu kaki dari Jembatan Merah, Surabaya, rumah sederhana dari batu bata dan kayu beratap seng berwarna perak, tampak berkilauan dari kejauhan seperti berbilah pisau yang sengaja diampar di tepi pantai. Rumah sederhana itu milik seorang lelaki tua berumur menjelang 75 tahun. Tidaklah orang kebanyakan, bahkan tetangganya sekali pun tahu bahwa dia adalah seorang penyair yang begitu santai dan penuh pertimbangan dalam hidupnya. Dia tinggal seorang diri di rumah sederhana itu – maksudku, anak dan istrinya lebih cepat mati. Hampir sepanjang hari, dia akan duduk di ruangan pengabdiannya; ruangan yang diisi beberapa rak buku, lampu baca, sebuah mesin tik tua, dan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat muda tanpa tali. Continue reading “Penyair Tua dan Tali Sepatunya”

POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)

Djoko Saryono *

Kita tahu, sastra menjadi pokok persoalan (subject matter) berbagai kegiatan yang bersangkutan dengan sastra. Bahkan bersangkutan juga dengan kegiatan di luar sastra. Disiplin ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, dan keagamaan sering menjadikan sastra sebagai pokok persoalan. Sebagai contoh, ketika hendak melihat perubahan-perubahan yang terdapat dalam pribadi-pribadi masyarakat Jawa, Niels Mulder menganalisis beberapa novel Indonesia yang kuat warna kejawaannya. Hal ini Continue reading “POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)”

MAKNA APRESIASI SASTRA (1)

Djoko Saryono *

Menurut hemat saya, secara operasional apresiasi sastra dapat dimaknai sebagai proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, rohaniah dan budiah, khusuk dan kafah, dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Continue reading “MAKNA APRESIASI SASTRA (1)”

Bahasa »