MATINYA MAKNA RUNTUHNYA IDEOLOGI

Dini Maulia *
sastraminangkabau.blogspot.co.id

Apa yang dikemukan Barthes (dalam Andrew, 1999) atas matinya pengarang adalah benar. Di saat kemunculan pembaca di sanalah kematian bagi pengarang. Begitupun dengan Nitchzee dengan pernyataannya dengan kematian tuhan, namun hakikatrnya bukanlah tuhan sebenarnya dan bukan pula pengarang sebenarnya, tetapi yang ditekankan adalah kematian bagi makna itu sendiri. Bertepatan dengan itu pula manusia kehilangan tujuan, ketika tanda telah di terjemahkan melampoi batas-batas realitasnya, di sanalah kematian bagi makna. Continue reading “MATINYA MAKNA RUNTUHNYA IDEOLOGI”

NH Dini yang Terus Berkarya; Intip Kontribusinya bagi Dunia Sastra Indonesia

Yashinta Difa
Pos Kupang, 8 Nov 2017

Seorang perempuan tersenyum bahagia saat namanya diundang naik ke panggung untuk menerima penghargaan prestasi seumur hidup (lifetime achivement award) dari penyelenggara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 di Bali, pekan lalu.

Dibantu oleh putra yang menuntunnya, perempuan yang memakai kebaya putih dipadu bawahan kain batik hijau muda itu melangkah perlahan-lahan ke panggung, berdiri di belakang mikrofon yang telah disediakan untuknya. Continue reading “NH Dini yang Terus Berkarya; Intip Kontribusinya bagi Dunia Sastra Indonesia”

Crack Code Bahasa “Walikan” Malang sebagai Refleksi Kritis

Resistansi Bahasa Daerah di Era “Westernisasi”
Komang Budi Mudita

Indonesia adalah negara dengan total populasi manusia sejumlah 250 juta jiwa dan merupakan negara dengan jumlah penduduk tertinggi keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika serikat (Worldbank, 2013). Tingginya populasi manusia didukung kondisi geografis yang kaya pulau, menyebabkan Indonesia kaya akan budaya, suku, maupun bahasa. Data Etnologue tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 707 bahasa daerah dan merupakan 10 persen dari total 7.102 bahasa di dunia. 707 bahasa daerah tersebut digunakan oleh setidaknya 221 juta orang penduduk Indonesia (Etbologue dalam Budiwiyanto, 2015). Continue reading “Crack Code Bahasa “Walikan” Malang sebagai Refleksi Kritis”

Profesor Tanpa Riset

Hasanudin Abdurakhman *
news.detik.com 13 Nov 2017

Ada 5 ribu orang guru besar atau profesor di Indonesia saat ini. Berapa yang aktif meneliti dan membuat karya ilmiah dalam bentuk publikasi riset? Entahlah. Beberapa tahun yang lalu saya baca berita bahwa untuk perguruan tinggi sekelas UGM, hanya 30 persen dari guru besarnya yang melakukan riset. Yang lain melakukan apa? Continue reading “Profesor Tanpa Riset”

Dialektika Bahasa Ibu

Syarif Hidayat Santoso *
Radar Madura, 11 Sep 2017

KETIKA kaum muslim memasuki Persia, bahasa Pahlavi diinisiasi ke dalam bahasa Arab sehingga masuklah konsep-konsep Islam ke dalam bahasa Persia. Namun, dialektika terjadi antara Arab dan Persia meski keduanya beragama Islam. Contohnya pada konsepsi Ayatullah pada rezim Syiah modern. Ayatullah merupakan bahasa Arab, namun konsepsi ini telah terwarnai wawasan politik Persia sehingga bertabrakan dengan konsepsi politik Arab Sunni yang berfondasikan pada konsep Amirul Mukminin, Khalifah, Sulthon atau Malik. Continue reading “Dialektika Bahasa Ibu”

Bahasa »