Penemu Kata

André Möller *
Kompas, 20 Mei 2011

Dengan berpulangnya Rosihan Anwar pada 14 April lalu, kontribusinya terhadap dunia jurnalistik dan bahasa Indonesia dikedepankan di beberapa media massa. Sebuah media digital mewartakan bahwa Rosihan adalah ”penemu dan pengusung kosakata baru”. Gengsi dan anda adalah dua kata yang konon ”ditemukannya”. Continue reading “Penemu Kata”

Debat Sastra Berujung Pidana?

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 14 Apr 2015).

Akhir Maret 2015 lalu, sejumlah media massa di tanah air, baik media cetak maupun elektronik dan media online, ramai memberitakan penjemputan paksa sastrawan Saut Situmorang oleh tiga orang polisi dari Polres Jakarta Timur, terkait kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan sastrawan Fatin Hamama. Saut dijemput paksa di rumahnya di Yogyakarta, karena dua kali dipanggil penyidik tidak datang. Continue reading “Debat Sastra Berujung Pidana?”

Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian I)

Tulus S *

Anenggih pundi ta nagri ingkang pinurweng carita samangke, ingkang kaeka adi dasa purwa, eka marang sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan. Adi-adining garba gupita datan wonten kadi nagri ing Dwarawati, nagri ingkang panjang punjung pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang marang adawa, punjung iku luhur, basa pasir ngarepake samudra, wukir ngungkurake gunung. Continue reading “Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian I)”

Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian II)

II. Mitos Dewi Sri
Tulus S *

Budaya tradisi bercocok tanam padi di atas adalah sebuah simbol kebudayaan masyarakat Jawa yang memuliakan Dewi Sri sebagai dewanya padi. Mitos Dewi Sri ataupun budaya tanam padi seperti di atas termasuk budaya lisan yang patut dihargai dan dilestarikan. Pada hakikatnya nenek moyang kita telah mengenal dan mempunyai bentuk penghargaan terhadap “pangan”. Kearifan lokal nenek moyang itu salah satunya tertuang dalam mitos tentang Dewi Sri. Continue reading “Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian II)”

Bahasa »