Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian III)

III. Peralatan Tradisi Pertanian
Tulus S

Alat-alat pertanian tidak lepas dari budaya manusia terutama masyarakat pedesaan. Masyarakat Jawa boleh dikatakan apapun yang dilakukan baik berupa bahasa, adat, nyanyian di dalamnya penuh simbol-simbol yang tersembunyi. Begitu juga alat-alat tradisi pertanian yang sekarang sudah jarang/tidak lagi dipakai oleh masyarakat petani. Era globalisasi sedikit banyak telah merubah tradisi tersebut yang katanya lebih menuju pada ke-modernisasi-an. Continue reading “Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian III)”

Revolusi Bahasa dalam Politik Gender

Mariana Amiruddin *
Majalah Tempo, 12 Jan 2015

Sejumlah pemikir perempuan menemukan bahwa hampir semua bahasa dunia ternyata tidak netral gender. Bahasa kemudian perlu menjadi ruang politik gender. Apa yang disemayamkan dalam bahasa ternyata kental dengan bias patriarki. Deborah Cameron, seorang ahli linguistik, mengatakan bahwa “kata” tidak memiliki makna, tapi masyarakat yang memaknainya (words don’t mean, people mean). Continue reading “Revolusi Bahasa dalam Politik Gender”

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae *
Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita. Continue reading “Ihwal Profesi dalam Sastra”

Perihal Esai Sastra di Indonesia

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 27 Sep 2017

Dalam sejarah sastra Indonesia, tulisan jenis esai sastra dan kritik sastra hampir tidak bisa dibedakan. Kedua jenis karangan pendek yang berisi analisis terhadap karya sastra itu mulai dikenal dalam sastra Indonesia lewat media massa cetak. Media cetak awal yang terbit tahun 1930-an yang memperkenalkan tulisan jenis esai dan kritik sastra adalah majalah Pandji Poestaka Continue reading “Perihal Esai Sastra di Indonesia”

Bahasa »