Upacara Boyongan

Tulus S *

Upacara boyongan adalah upacara pindah rumah. Hal ini masih banyak terlihat dalam masyarakat Jawa. Tidak terkecuali di sekitar wilayah Madiun. Tradisi ini diawali dengan mencari hari yang baik sesuai dengan pathokan (pedoman yang dianut) oleh masyarakat Jawa. Biasanya terkait dengan keberadaan naga tahun, naga sasi dan hari naas. Proses upacara boyongan dilihat sepentas seperti arak-arakan atau pawai. Di mana yang berjalan di depan sendiri adalah pini sepuh (biasanya seorang nenek) yang bertugas membawa sapu lidi untuk menyapu sepanjang perjalanan. Continue reading “Upacara Boyongan”

Metanegasi, Pretensi dan Kesalahan

Reza A.A Wattimena *
rumahfilsafat.com

Tanggapan atas buku “Filsafat Negasi” tulisan Muhammad Al-Fayyadl dalam Diskusi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 9 Mei 2016

Saya teringat suatu sore di kota Berlin, Jerman. Saya sedang berdiskusi dengan seorang kawan tentang perbedaan antara filsafat Jerman dan filsafat Prancis kontemporer. Kawan saya berpendapat, bahwa para pemikir Prancis tidak dapat dianggap sebagai seorang filsuf, melainkan sastrawan. Continue reading “Metanegasi, Pretensi dan Kesalahan”

Perawan dan Tiga Serigala

Anindita S. Thayf
Koran Tempo

DAN kini hanya tersisa satu orang perempuan di muka bumi. Satu yang tinggal di dalam bunker perlindungan berpintu platinum lapis lima dan dijaga tiga ekor serigala. Sebenarnya, lebih pantas dia disebut gadis karena usianya masih belia: satu gerhana lagi tujuh belas tahun. Ayahnya, yang kini entah berada di mana—dia lebih suka berpikir orang tua itu masih hidup—berjanji hanya akan pergi sebentar dan bakal kembali sebelum usianya tepat tujuh belas. “Untuk mencari hadiah ulang tahunmu. Yang terbaik, tentu saja,” kata ayahnya pada suatu malam, dan begitu pagi tiba lelaki itu sudah pergi. Continue reading “Perawan dan Tiga Serigala”

Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 25 Mei 2015

Bermula dari percakapan, terpilihlah nama untuk perkumpulan modern di Hindia Belanda. Soetomo menanggapi penjelasan Wahidin Soedirohoesodo: “Punika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Petikan kalimat berbahasa Jawa ini dimuat di buku berjudul Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi. Continue reading “Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa”

Bahasa »