Korupsi Tanpa Koruptor

Seno Gumira Ajidarma *
Majalah Tempo, 15 Mei 2017

Semenjak Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk pada 2003, kata “korupsi” dan “koruptor” semakin merasuk ke kosakata perbincangan, dengan nada lebih optimistis dibanding komisi-komisi sejenis semasa Orde Baru. Perbedaannya memang jelas, pada masa Orde Baru pembentukan komisi semacam itu hanyalah manuver dari rezim korup, semacam kosmetik kepantasan dalam struktur pemerintahan. Lima tahun setelah Reformasi 1998, pembentukan KPK yang dilengkapi sarana mencukupi untuk kerja investigasi, dengan hasil konkret dari saat ke saat, menghapus sinisme dan skeptisisme yang barangkali sempat muncul. Continue reading “Korupsi Tanpa Koruptor”

Tragedi Barok dan Pergulatan Manusia Sado

Edeng Syamsul Ma’arif
radarcirebon.com

BAROK adalah momok. Pimpinan para rampok, bromocorah, jambret, pencoleng, pemalak, penodong. Berdiam di sebuah kampung kumuh, terbelakang, padat penduduk, dan (pastilah) tak terjangkau kemakmuran. Tidak ada listrik, sampah berserak di sembarang tempat, orang-orang biasa mandi dan berak di sungai pekat aroma bacin. Kata-kata kasar dan kotor berseliweran di setiap percakapan. Tapi Barok bahagia. Memangsa siapa saja yang melintas di kampung itu. Semua takut kepadanya. Semua melindunginya dari kejaran pihak berwajib. Hanya kepada Aki pemancing tua, Barok menaruh hormat. Dan kepada Aki jugalah ia belajar tentang hidup yang lain termasuk mengadukan gebalau perasaan. Continue reading “Tragedi Barok dan Pergulatan Manusia Sado”

Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 5 Mei 2014

Proses teknologi kata pun terjadi ketika kita menangkap bunyi dan menguncinya di atas kertas dalam wujud gambar. Aksara adalah gambar yang dirancang untuk menyimpan bunyi agar ada yang tersisa-katakanlah residu-ketika ucapan tidak terdengar lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah memanfaatkan rentetan aksara untuk menyimpan pengetahuan, mimpi, harapan, kenangan, dan apa saja agar tidak menguap begitu saja, agar bisa diperiksa ulang oleh yang merentetkan aksara itu sendiri ataupun orang lain yang membacanya. Continue reading “Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola”

Sastra Itu “Berat”

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 22 Jan 2011

Sekretaris Ikapi Cabang Yogyakarta baru-baru ini menyatakan bahwa penerbitan buku sastra hanya lima persen dari penerbitan buku di Yogyakarta karena para penerbit menganggap sastra itu “berat, baik materi dan bahasanya” sehingga kurang laku (Kompas, 6 Oktober, 2010, hlm. 12). Anggapan buku sastra kurang laku karena dianggap “berat” dan oleh karena itu para penerbit menghindar menerbitkannya, sudah lama menjadi mitos di kalangan penerbit. Continue reading “Sastra Itu “Berat””

Bahasa »